Pada akhirnya, Purser tegas: pendidikan manajemen tidak memberikan apa-apa selain cara yang lebih kreatif-inovatif untuk mengeksploitasi manusia. Berpayung di bawah kolonialisme berkelanjutan, “ilmu kemajuan” biasa merendahkan lokalitas dengan mantra SDM, sambil mengabaikan people, politics, dan power, yang kemudian lebih suka mendulang konsep resep ketimbang konsep analitik: pembangunan, pemberdayaan, manajemen SDM, governance, good governance, green economy, collaborative governance, agile governance, smart government, sustainable development, sustainable growth, smart village, transparansi, akuntabilitas, inovasi, digitalisasi, resilience, dan masih banyak lagi.
Secara epistemologis, konsep-konsep resep kolonial itu tidak mewakili realitas sehingga tidak hadir sebagai alat analitik terhadap realitas, melainkan menjadi obat yang tidak menyembuhkan, malah menjadi parasit yang menempel pada tubuh negara, daerah, kampus, desa, dan masyarakat. Berbagai template resep yang digunakan secara positivistik (definisi, indikator, data) membuat orang tidak memiliki kemampuan menggunakan pendekatan interpretif yang bisa menghadirkan kedaulatan subjek.
Sekalipun dunia ilmu sosial telah menyajikan teori-teori kritis (dari Marxian sampai dengan post-developmentalism hingga post-colonialism) yang lebih relevan dengan tradisi ilmu kerakyatan, tetapi orang tetap ndableg mengkonsumsi teoriteori resep yang tidak kompatibel dengan kerakyatan.
Ketiga, sejalan dengan semangat kemasyarakatan, proses pendidikan kita lebih bercorak paternalistik. Saya tidak memiliki romantisme mengutip Ivan Illich dan Paulo Freire, meskipun keduanya dikenang sebagai tokoh pendidikan kritis, untuk refleksi kritis terhadap pendidikan paternalistik, dengan sibuk menyoroti soal metode belajar-mengajar. Metode dan pola pendidikan di ruang kuliah sejak puluhan tahun hingga sekarang tetap sama, yang mengandung positivisme, managerialisme, teknokrasi, formalisme, dominasi, monopoli, hegemoni, eksploitasi, kekuasaan, dan lain-lain. Puluhan tahun ke depan akan tetap sama. Dengan realisme, saya hendak mengatakan bahwa ruang kelas kuliah adalah penjara.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





