Mahasiswa aktif, mitra sahabat, keluarga, dan alumni adalah barisan komunikator yang mendukung jangkauan dan akses mahasiswa baru dengan tradisi gethok tular untuk kampus bonek. Berbagai media inovatif memang memberi kontribusi terhadap jangkauan dan akses, tetapi lebih kecil ketimbang tradisi gethok tular. Blasting, website, berbagai platform digital begitu gencar kita lakukan, tetapi hanya sedikit yang nyantol dan selebihnya lewat begitu saja.
Memang ada faktor eksternal yang ganas, tetapi metodologi tetap penting untuk kita perhatikan di tengah ceruk yang sempit. Platform digital inovatif bagi individu bukanlah sarana tindakan komunikatif melainkan sarana tindakan ekspresif, dan bagi juragan kapitalis, platform digital adalah kekuasaan dan industri untuk kapitalisasi informasi yang membentuk communicative capitalism: warta, data, tahta, dan harta.
Daya ikat dan daya pikat yang membentuk tradisi gethok tular kian menipis, tetapi kehadiran media dan teknologi inovatif tidak serta merta menggantikan tradisi gethok tular.
Kebanggaan mahasiswa dan alumni generasi baru terhadap kampus bonek sungguh tipis, sehingga melemahkan gethok tular.
Apakah kebanggaan yang tipis akibat dari proses dan output kampus yang tidak layak dibanggakan? Apakah dosen juga tidak bangga pada kampus? Apakah mahasiswa dan alumni apatis terhadap kampus? Rangkaian pertanyaan ini perlu menjadi subject matter untuk penjelajahan dan diskusi, sehingga bisa menemukan cara yang tepat untuk membangkitkan daya ikat, daya pikat, kebanggaan, dan gethok tular.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





