Di luar kebanggaan, ada fakta dan pengakuan para pihak, bahwa nama (jeneng) APMD dan prodi-prodinya, belum dikenal luas, satu kondisi yang berada jauh di bawah daya pikat. Kegiatan publikasi dan promosi kerap tidak mengalami kesulitan dalam hal cara bagaimana, melainkan kesulitan tentang konten apa yang mau disajikan.
Kelima, tradisi kerakyatan membuka laboratorium yang hidup, luas, dan dalam di tengah bentang hidup, kehidupan, dan penghidupan rakyat, masyarakat, desa, dan daerah.
Perjumpaan dengan pejabat, politisi, rakyat, kepala desa, perangkat desa, petani, nelayan, bakul pasar, buruh, intelektual, seniman, aktivis, dan lain-lain adalah laboratorium hidup yang bisa memperkaya, mempertajam, memperdalam, dan memperluas untuk membentuk ilmu amaliah. Kampus tentu harus memiliki kepekaan dan kesanggupan menjawab seorang bupati yang judeg dengan birokrasi, data, dan aturan, atau seorang bupati yang merasa gagal mempertemukan antara target kebijakan pembangunan dari atas dengan kondisi sosiologis masyarakat. Akademisi dengan membawa buku teks tentu bisa menjawab secara tekstual, tetapi akan dibalas dengan wacana: kondisi lapangan berbeda dengan teori.
Dosen maupun mahasiswa memang juga berjumpa dengan orangorang di luar kampus, namun bukan untuk dialektika, melainkan untuk mengumpulkan data atau untuk promoting dan marketing.
Tradisi laboratorium kerakyatan yang hidup memang tidak dikenal oleh inovasi modernitas. Inovasi lebih suka pada “laboratorium mati” yang eksklusif, dilengkapi dengan ruang dan fasilitas yang memadai, personil yang rajin duduk dalam ruang, dan ditempeli dengan label keren: research center.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





