Cepat, Lugas dan Berimbang

Memuliakan Tradisi Kampus Bonek STPMD APMD Yogyakarta

Ketika dikunjungi asesor, research center yang keren itu akan memperoleh poin tinggi. Namun “laboratorium mati” menghidupkan kembali cita rasa kampus “menara gading” yang begitu tinggi dan mulia, tetapi mengasingkan diri dari dunia realitas hidup, kehidupan, dan penghidupan rakyat. Jika kampus ini dipaksa membikin “laboratorium mati”, kita bisa sediakan untuk keperluan siasat borangisasi, tetapi yang otentik dan bermakna adalah “laboratorium hidup” yang bergulat dan bergelut dengan dunia nyata.

Keenam, lulusan kampus bonek tidak bisa secara linear memenuhi standar inovatif-teknokratik rezim akreditasi. Standar kelulusan, khususnya serapan di lapangan pekerjaan, berupaya memajukan sambil menghukum kampus. Ketika lulusan sangat terlambat terserap pada lapangan pekerjaan, atau bekerja secara tidak linear, maka kampus ini dihukum dengan kata: APMD hanya memproduksi pengangguran. Ada fakta bahwa dunia kehidupan dan penghidupan masyarakat Indonesia tidak hanya formal tetapi juga informal, dan juga ada fakta bahwa pemerintah tidak sanggup menyediakan atau membuka lapangan pekerjaan secara massif, kecuali untuk rakyat jelata. Kontradiksi ini disebut dengan kaya aturan, miskin kebijakan. Tidak sedikit lulusan kampus bonek menjadi wong mbambung, yang dalam trasisi Jawa ditafsirkan buruk sebagai gelandangan, wara-wiri kesana kemari, tidak jelas. Tetapi saya mempunyai tafsir yang melampaui konotasi jelek itu. Wong mbambung ngalor ngidul oleh berkat, ngetan ngulon oleh sahabat.

Mereka tidak bekerja secara formal, melainkan menjadi pengacara (pengangguran yang banyak acara), relawan, pegiat, aktivis, makelar, komunikator, atau bisa juga disebut sebagai “rakyat jelalatan” yang tidak memiliki aset tetapi memiliki relasi dan akses. Rezeki wong mbambung adalah misteri sangkan paraning dumadi dari Tuhan. Di mata saya, Bung Karno, Bung Hatta, dan Gus Dur, adalah wong mbambung yang tidak pernah bekerja dalam pengertian statistik formal. Mereka melampaui bekerja formal, yang kemudian menjadi pemimpin hebat Republik Indonesia. Serupa tetapi tidak sama, wong mbambung alumni kampus bonek, beberapa tahun kemudian, tumbuh menjadi pemimpin (desa, organisasi, komunitas, daerah) yang melampaui profesi formal, seperti profesi ASN sekalipun.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN