Melayani adalah perbuatan mulia, minta dilayani adalah perbuatan buruk. Tetapi melayani minus belajar dan mendidik adalah perbuatan baik yang melemahkan diri. Banyak dosen bilang bahwa pelayanan digunakan untuk mengikat mahasiswa agar tidak rontok, sembari marah jika sejumlah dosen dan tendik tidak melayani mahasiswa dengan baik.
Tetapi orang yang sama tidak marah atau tidak rewel ketika para dosen tidak belajar dan tidak mendidik dengan baik. Jangan-jangan orang yang marah dengan pelayanan itu adalah orang yang malas belajar dan suka minta dilayani.
Banyak melayani minus mendidik, kata orang, justru menjadi murahan, yang bukan saja memanjakan orang tetapi juga melemahkan Sekolah Tinggi.
“Kampus yang terlalu baik pada mahasiswa justru akan sulit berubah”, demikian ungkap Natalius Pigai.
Karena itu kampus bonek harus mengutamakan belajar dan pendidikan tanpa meninggalkan pelayanan. Pelayanan tidak perlu dibicarakan melainkan dikerjakan. Sebaliknya belajar dan mendidik harus banyak dibicarakan, dikerjakan, dan dikomunikasikan. Pendidikan di mata saya adalah membentuk karakter pada langkah pertama, yang kemudian disusul dengan penalaran, baru pembentukan profesi. Moral dan mental, dua aspek penting ala Natalius Pigai, termasuk dalam ranah pendidikan karakter. Di mata saya, karakter berkaitan dengan nilai sebagai kebaikan untuk orang banyak, dan moral adalah kebaikan diri.
Keempat, jangkauan dan akses mahasiswa baru ke kampus bonek, dari waktu ke waktu, bekerja dengan tradisi gethok tular, sebuah komunikasi tatap-muka secara dekat dan langsung. Memiliki sifat kerakyatan dan kemasyarakatan, tradisi gethok tular tergantung pada daya ikat (social bonding) dan daya pikat (kebanggaan) keluarga, sanak saudara, dan sahabat yang mengakui Sekolah Tinggi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





