Kategori: Nasional

  • Orang-Orang Penabur Angin

    Orang-Orang Penabur Angin

    Oleh : Aji Priyo Utomo

    infopertama.com – Di tengah kehidupan sosial saat ini sering kali terjadi kegaduhan, hal tersebut kerap ditimbulkan oleh mereka yang seolah tidak pernah benar-benar tenang sebelum menciptakan keributan.

    Mereka berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain, membawa bisik-bisik kecil yang tampak sepele, tetapi perlahan berkembang menjadi prasangka, pertengkaran, bahkan kebencian.

    Mereka menabur angin tanpa merasa sedang menyebarkan sesuatu yang berbahaya. Padahal, tidak bisa dipungkiri dalam peristiwa konflik sosial seringkali memperlihatkan bahwa badai besar sering bermula dari hal-hal kecil yang terus ditiup dan dipelihara.

    Hari ini, suara lebih mudah mendapat tempat dibandingkan makna. Orang berlomba menjadi pusat perhatian, pembawa kabar tercepat, atau penggerak opini paling ramai, meski kebenaran sering tertinggal jauh di belakang.

    Dalam situasi seperti itu, manusia dapat berubah seperti angin, selalu tidak tampak bentuknya, tetapi terasa dampaknya. Ia menyusup ke ruang sosial, menggiring penilaian, membentuk kebencian, lalu pergi tanpa merasa perlu bertanggung jawab atas kerusakan yang ditinggalkan.

    Falsafah Jawa sejak lama mengingatkan, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”

    Kehormatan seseorang tercermin dari lisannya, sebagaimana penghormatan terhadap tubuh tampak dari caranya menjaga diri. Karena itu, ucapan dalam pandangan budaya Jawa bukan sekadar bunyi, melainkan cerminan batin.

    Kata-kata yang ditebarkan kepada orang lain sesungguhnya memperlihatkan kualitas jiwa pemiliknya.

    Laman: 1 2 3 4

  • Sebar Fitnah, Bupati Hery Nabit Akan Polisikan Edy Hardum

    Sebar Fitnah, Bupati Hery Nabit Akan Polisikan Edy Hardum

    Ruteng, infopertama.com – Bupati Manggarai, Herybertus Nabit akan mempolisikan pengacara Siprianus Edy Hardum yang dinilai telah dengan sengaja menyebarkan fitnah keji terhadap Hery Nabit dan Istri, Meldyanti Hagur.

    Rencana Hery Nabit mempolisikan Edy Hardum ke Polres Manggarai itu disampaikannya dalam sanggahan dan keberatan resmi yang dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.

    Selain Edy Hardum, Bupati Hery juga menyayangkan kebebasan Pers yang dinilainya terlalu brutal dengan mengabaikan kode etik Jurnalistik sebab tidak cover both sides.

    Berikut salinannya yang diperoleh infopertama.com, Sabtu.

    Saya, Herybertus Nabit, menyampaikan sanggahan dan keberatan resmi terhadap pemberitaan Media Online VIVA NTT edisi, Jumat, 22 Mei 2026 terkait dugaan aliran dana kasus DAK nonfisik Kabupaten Manggarai Timur yang menyeret nama saya dan istri saya.

    Saya sangat berkeberatan terhadap pernyataan Saudara Edi Hardum yang dimuat dalam pemberitaan tersebut, yang menyatakan bahwa saya dan istri saya melindungi Saudara Jefrin Haryanto serta menerima uang hasil korupsi sebagaimana dituduhkan.

    Pernyataan Saudara Edi Hardum tersebut menurut saya tidak mengandung kebenaran dan karenanya merupakan fitnah yang sangat keji terhadap saya dan istri saya. Saya dan istri saya tidak pernah menerima uang hasil korupsi dari Saudara Jefrin Haryanto sebagaimana yang dituduhkan.

    Tuduhan yang disampaikan tanpa dasar fakta, tanpa alat bukti yang sah, dan tanpa proses hukum yang jelas tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun etika. Pembuktian tindak pidana korupsi, suap, ataupun dugaan jual-beli jabatan tidak dapat dibangun berdasarkan rumor, asumsi, atau opini pribadi semata. Jika hanya berdasarkan asumsi tanpa bukti yang sah, maka hal tersebut merupakan fitnah.

    Laman: 1 2 3

  • “From Waste to Action”: Anak Muda Labuan Bajo Bergerak untuk Masa Depan Bebas Sampah

    “From Waste to Action”: Anak Muda Labuan Bajo Bergerak untuk Masa Depan Bebas Sampah

    Labuan Bajo, infopertama.com – Di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo, persoalan sampah menjadi tantangan nyata yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk generasi muda.

    Menjawab tantangan tersebut, Program Positif Bajo bersama PTTEP Indonesia dan PT. INGRAM menghadirkan Youth Workshop Campaign bertajuk “From Waste to Action” pada 21 – 22 Mei 2026 di Kampus Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo, Manggarai Barat.

    Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi, pembelajaran, dan aksi bagi generasi muda Manggarai Barat untuk menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah berkelanjutan di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo.

    Workshop ini juga menjadi bagian dari penguatan Program Positif Bajo yang telah berjalan sejak 2024 melalui pendekatan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

    Melalui seminar, diskusi interaktif, studi kasus, hingga sesi design thinking, peserta diajak memahami tantangan pengelolaan sampah di wilayah pesisir dan destinasi wisata, sekaligus merancang ide kampanye kreatif yang dapat diterapkan langsung di komunitas mereka.

    Seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, komunitas pemuda, organisasi lingkungan, relawan, dan aktivis keberlanjutan yang ditargetkan hadir dalam kegiatan ini.

    Dari workshop tersebut diharapkan lahir berbagai inisiatif dan aksi nyata yang dapat memperkuat budaya memilah sampah dari sumbernya serta mengurangi penggunaan sampah sekali pakai di masyarakat.

    Direktur Politeknik eLBajo Commodus, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si saat membuka kegiatan Youth Workshop Campaign tersebut menyampaikan terima kasih kepada PTTEP Indonesia dan PT INGRAM yang sudah peduli dan konsen terhadap pengelolaan dan pengolahan sampah.

    Laman: 1 2 3 4 5

  • Mobil Bekas CR-V 2024 Sudah Tak Semahal Dulu, Cek Daftarnya!

    Mobil Bekas CR-V 2024 Sudah Tak Semahal Dulu, Cek Daftarnya!

    infopertama.com – Nama Honda CR-V pasti langsung terlintas di pikiran saat mencari SUV Premium yang tangguh tapi tetap nyaman buat aktivitas harian.

    Di pasar mobil seken, mobil bekas CR-V 2024 kini makin diburu oleh para pencinta otomotif Tanah Air.

    Selain karena desainnya yang semakin gagah, generasi ini menawarkan lompatan teknologi yang cukup signifikan.

    Nah, buat kamu yang berencana meminang SUV legendaris ini dalam kondisi bekas, ada beberapa hal penting yang wajib dipahami, mulai dari varian, spesifikasi, hingga harganya di pasaran saat ini. Yuk, kita bedah bareng-bareng!

    Harga Mobil Bekas Honda CR-V 2024

    Meski tergolong SUV premium, antusiasme konsumen terhadap CR-V terbaru masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari harga pasaran bekasnya yang masih stabil dan diminati banyak pencari SUV modern.

    Honda sendiri menawarkan CR-V 2024 dalam dua pilihan mesin berbeda. Varian pertama memakai mesin 1.5L turbo seperti generasi sebelumnya, sedangkan varian tertingginya sudah menggunakan teknologi hybrid 2.0L e:HEV yang lebih modern dan efisien.

    Berikut kisaran harga mobil bekas CR-V 2024 di pasaran:

    VarianHarga
    2024 Honda CR-V 2.0 RS e:HEV SUVRp535 jutaan – Rp667 jutaan
    2024 Honda CR-V 1.5 Turbo SUVRp595 jutaan

    Walaupun harganya cukup tinggi, SUV ini tetap menarik karena menawarkan kenyamanan kabin, fitur modern, serta resale value Honda yang terkenal kuat di Indonesia.

    Dimensi CR-V 2024

    Kedua varian CR-V keluaran 2024 diketahui memiliki spesifikasi dimensi yang sama, hanya dibedakan di sektor mesin dan kelengkapan fitur.

    1. Panjang: 4.691 mm
    2. Lebar: 1.866 mm
    3. Tinggi: 1.681 mm
    4. Wheelbase: 2.701 mm
    5. Ground clearance: 198 mm

    Dari sisi dimensi, Honda CR-V generasi 2024 hadir dengan ukuran bodi yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Bertambahnya dimensi tersebut membuat ruang kabin terasa lebih lega dan nyaman, baik untuk pengemudi maupun penumpang.

    Laman: 1 2 3

  • PLN UIP Nusra Dorong Pendekatan Budaya dalam Pengembangan Geothermal di Flores

    PLN UIP Nusra Dorong Pendekatan Budaya dalam Pengembangan Geothermal di Flores

    Ruteng, infopertama.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus mendorong pendekatan budaya dalam proses pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

    Di tengah proses dialog dan sosialisasi yang terus dilakukan, sejumlah tokoh masyarakat mulai memahami manfaat pengembangan energi panas bumi sebagai sumber energi bersih untuk mendukung kebutuhan listrik sekaligus masa depan daerah.

    Warga Poco Leok, Kabupaten Manggarai, Tadi Sudapang, mengaku awalnya tidak terlalu memperhatikan aktivitas pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di wilayahnya. Namun, ketika polemik mulai muncul pada 2021, ia terdorong mencari tahu secara langsung mengenai geothermal.

    “Tahun 2022 saya mengikuti kegiatan tabe gendang yang dihadiri teman-teman PLN di Poco Leok. Awalnya saya datang bukan sebagai pendukung ataupun penolak, saya hanya ingin memahami sebenarnya geothermal itu seperti apa,” ujarnya.

    Melalui berbagai dialog dan sosialisasi yang diikutinya, Tadi mulai memahami proses pengembangan geothermal, termasuk upaya PLN dalam menjaga budaya dan ruang hidup masyarakat setempat.

    “Saya akhirnya memahami bahwa pembangunan ini juga berupaya menghormati budaya masyarakat. Karena itu saya mencoba menjelaskan kembali kepada keluarga dan warga lain yang masih ragu,” katanya.

    Hal senada disampaikan Ketua Gendang Desa Wewo, Hendrikus Ampak. Menurutnya, pemahaman masyarakat mulai terbentuk setelah memperoleh penjelasan langsung dari berbagai pihak, termasuk para ahli geothermal.

    Laman: 1 2 3

  • Yayasan Ayo Indonesia Edukasi Dampak Perubahan Iklim bagi Kelompok Disabilitas di Desa Persiapan Wade

    Yayasan Ayo Indonesia Edukasi Dampak Perubahan Iklim bagi Kelompok Disabilitas di Desa Persiapan Wade

    infopertama.com – Yayasan Ayo Indonesia menggelar edukasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap sektor pertanian bagi kelompok disabilitas di Kantor Desa Persiapan Wade, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Kamis, 21 Mei 2026.

    Kegiatan yang didukung Missionprokur SVD Steinhausen Swiss ini diikuti 22 peserta yang terdiri dari orang tua yang memiliki anak difabel, orang dewasa difabel, serta remaja difabel di Desa Persiapan Wade.

    Kegiatan tersebut turut dihadiri pemerintah desa, para pendamping kelompok disabilitas, mahasiswa magang, dan masyarakat setempat. Suasana diskusi berlangsung hangat dan partisipatif. Sejumlah peserta tampak aktif berbagi pengalaman mengenai perubahan cuaca yang memengaruhi hasil pertanian dan kebutuhan air untuk pertanian di lingkungan mereka.

    Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa hasil panen padi menurun dalam tiga tahun terakhir akibat kekurangan air. Selain itu, tanaman cengkeh juga tidak berbuah optimal karena musim hujan berkepanjangan yang terjadi belakangan ini. Kondisi tersebut dinilai semakin mempersulit kehidupan petani yang bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama keluarga.

    Kepala Desa Persiapan Wade, Kristianus Apul, dalam sambutannya menegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan serius bagi masyarakat desa karena berdampak langsung pada hasil pertanian dan ketahanan pangan keluarga. Menurutnya, cuaca yang tidak menentu, musim kemarau yang lebih panjang, dan meningkatnya intensitas hujan ekstrem membuat petani semakin sulit menentukan waktu tanam dan meningkatkan risiko gagal panen.

    Laman: 1 2 3 4 5

  • Netizen Buru Link Video TKW Taiwan 3 Vs 1 Viral di TikTok

    Netizen Buru Link Video TKW Taiwan 3 Vs 1 Viral di TikTok

    infopertama.com – Jagat Maya kembali diramaikan dengan kemunculan rekaman video bertajuk “TKW Taiwan 3 Vs 1” yang mendadak viral di platform TikTok.

    Pencarian akan Konten tersebut langsung memicu lonjakan yang cukup masif di berbagai platform mesin pencari digital dalam beberapa hari terakhir.

    Topik sensitif ini menjadi bahan perbincangan luas netizen, terutama di kalangan pengguna media sosial aktif serta komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tengah mengadu nasib di luar negeri.

    Kata kunci terkait video itu ikut ramai diburu setelah sejumlah akun penjelajah konten membahas isi dan latar belakang peredaran videonya.

    Berdasarkan narasi yang beredar luas, video kontroversial tersebut disebut-sebut memuat adegan seorang perempuan bersama tiga orang pria di dalam sebuah ruangan.

    Konten bernuansa asusila itu memancing kontroversi panas sekaligus memunculkan ribuan komentar dari warganet.

    Perhatian publik kian meningkat tajam setelah muncul klaim sepihak mengenai pengakuan perempuan yang dituding sebagai pemeran utama dalam video tersebut.

    Dilansir dari akun TikTok @jurianto.22, perempuan itu mengaku telah menerima bayaran sebelum video dibuat.

    Ia juga disebut mengetahui bahwa konten tersebut pada akhirnya akan diunggah ke media sosial. Namun, polemik berkembang karena wajah perempuan tersebut sama sekali tidak disamarkan saat video tersebar luas di internet.

    Dalam pelacakan informasi digital, perempuan itu dikabarkan menerima bayaran sebesar 30.000 NT atau setara dengan sekitar Rp16 juta.

    Laman: 1 2 3

  • PLN Tegaskan Komitmen ESG melalui Pengelolaan Lingkungan dan Penghijauan Berbasis Masyarakat

    PLN Tegaskan Komitmen ESG melalui Pengelolaan Lingkungan dan Penghijauan Berbasis Masyarakat

    Mataram, infopertama.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus memperkuat komitmen menjaga kelestarian lingkungan dalam setiap pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan standar pengelolaan lingkungan berkelanjutan, program penghijauan, hingga berbagai langkah mitigasi risiko ekologis di wilayah proyek.

    Asistant Manager Lingkungan PT PLN (Persero) UIP Nusra, Nasrulloh, menjelaskan bahwa seluruh proyek ketenagalistrikan yang dijalankan PLN selalu mengacu pada peraturan perundang-undangan serta dokumen persetujuan lingkungan yang telah disahkan kementerian maupun dinas lingkungan hidup setempat.

    “Penerapan standar lingkungan meliputi pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah B3 dan air limbah, pengendalian gangguan lingkungan, hingga penghematan penggunaan air dan energi,” jelas Anas.

    Selain itu, PLN juga secara rutin melakukan pemantauan kualitas lingkungan guna memastikan seluruh aktivitas pembangunan tetap berada dalam baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan.

    “Pemantauan ini penting agar setiap proyek tetap mendukung kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, termasuk perlindungan vegetasi di sekitar wilayah pembangunan,” tambahnya.

    Tak hanya berfokus pada pengelolaan dampak lingkungan proyek, PT PLN (Persero) UIP Nusra juga aktif menjalankan program penghijauan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem.

    Pada awal 2025, PT PLN (Persero) UIP Nusra bersama masyarakat dan pihak kehutanan melakukan penanaman 33 ribu pohon jambu mete di Desa Noin Bila, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan cakupan area mencapai 50 hektare.

    Laman: 1 2

  • Modernitas dan Hutan yang Hilang

    Modernitas dan Hutan yang Hilang

    Manusia Berhasil Menaklukkan Alam, Tetapi Gagal Menaklukkan Kerakusannya Sendiri

    Oleh: Aji Priyo Utomo*

    infopertama.com – “Untuk apa modernitas, bila hati manusia kosong tanpa cinta?”

    Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan seorang penyair. Namun hari ini, ia terasa sebagai pertanyaan ekologis sekaligus politik. Sebab di tengah gegap gempita pembangunan, manusia justru semakin jauh dari alam yang menopang hidupnya sendiri.

    Kita hidup di zaman ketika kemajuan diukur lewat jalan tol, kawasan industri, tambang, dan angka investasi. Hutan dipandang sebagai cadangan ekonomi yang menunggu dibuka. Sungai dianggap saluran sumber daya. Gunung diperlakukan seperti tubuh yang boleh dilubangi kapan saja selama menghasilkan keuntungan.

    Di titik itulah modernitas sering kehilangan nuraninya. Papua memperlihatkan ironi itu dengan terang. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentang hutan hujan tropis terbesar di dunia perlahan berubah menjadi ruang eksploitasi. Hutan dibuka untuk perkebunan, tambang, jalan, dan proyek pangan skala besar. Pohon-pohon tua yang tumbuh jauh sebelum republik ini lahir tumbang dalam hitungan menit oleh mesin-mesin industri.

    Bahasa pembangunan terdengar megah di ruang rapat yaitu hilirisasi, investasi, ketahanan pangan, bioenergi, percepatan ekonomi. Tetapi bagi masyarakat adat, pembangunan kerap hadir dalam bentuk lain, bagaimana tidak tanah yang hilang, sungai yang keruh, dan hutan yang tak lagi dapat diwariskan kepada anak-anak mereka.

    Padahal bagi banyak komunitas adat di Papua, hutan bukan sekadar hamparan kayu. Hutan adalah ruang hidup, sumber makanan, pengetahuan, dan ingatan leluhur. Ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pohon, melainkan juga cara hidup manusia yang tumbuh bersama alamnya.

    Laman: 1 2 3

  • Ketika Penderitaan Menjadi Komoditas: Kritik atas Ekonomi Politik Kemartiran dalam Film Dokumenter Advokasi

    Ketika Penderitaan Menjadi Komoditas: Kritik atas Ekonomi Politik Kemartiran dalam Film Dokumenter Advokasi

    Patris Allegro★

    infopertama.com – Esai ini melampaui kritik konvensional terhadap film dokumenter advokasi yang hanya menyoroti reduksi hitam-putih atau manikheisme moral. Dengan pendekatan ekonomi politik kritis dan personalisme radikal, esai ini mengajukan tesis bahwa film seperti Pesta Babi—terlepas dari niat baiknya—telah berpartisipasi dalam industri penderitaan: sebuah sistem produksi simbolik di mana luka masyarakat adat diekstrak, dikemas, dan dikonsumsi sebagai komoditas moral oleh kelas menengah urban.

    Esai ini membongkar tiga mekanisme utama: (1) ekstraksi simbolik yang tidak berbeda secara struktural dari ekstraksi material yang dilakukan negara dan pengusaha; (2) penghapusan agensi moral masyarakat adat melalui representasi korban murni yang paternalistis; dan (3) produksi katarsis murah yang menggantikan tuntutan perubahan struktural. Pada akhirnya, esai ini menuntut agar kritik tidak hanya diarahkan pada film, tetapi pada diri penonton sendiri: apakah kita sungguh mencari keadilan, atau hanya perasaan telah menjadi orang baik?

    Pendahuluan: Melampaui Kritik yang AmanDalam beberapa tahun terakhir, film dokumenter advokasi tentang tanah adat, ekologi, dan ketidakadilan struktural telah menjadi genre yang populer, terutama di kalangan kelas menengah urban yang haus akan konten moral. Film seperti Pesta Babi dipuji sebagai “alarm moral”, “suara bagi yang tak bersuara”, dan “karya yang membangunkan kesadaran publik”.

    Kritik terhadap film semacam itu, jika ada, biasanya berhenti pada tuduhan yang sudah menjadi konsensus: bahwa film tersebut terlalu hitam-putih, terlalu reduktif, terlalu propagandis. Ini adalah kritik yang aman. Ia tidak mengancam siapa pun, termasuk penontonnya sendiri.Esai ini ingin melangkah lebih jauh—ke wilayah yang tidak nyaman.

    Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

  • Perkuat Edukasi Geothermal, PLN Gandeng Ahli UGM Jelaskan Fenomena Alam di Flores

    Perkuat Edukasi Geothermal, PLN Gandeng Ahli UGM Jelaskan Fenomena Alam di Flores

    Kupang, infopertama.com – Menjawab kekhawatiran masyarakat terkait kemunculan lumpur panas dan uap di sekitar Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di Pulau Flores, ahli geothermal dari Universitas Gadjah Mada, Pri Utami, menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan proses alami yang menunjukkan adanya potensi panas bumi di wilayah tersebut.

    Menurut Pri Utami, manifestasi panas bumi tersebut telah ada jauh sebelum aktivitas pengeboran proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi dilakukan.

    “Manifestasi panas bumi merupakan ekspresi alami dari adanya panas di bawah permukaan bumi. Bentuknya bisa berupa mata air panas, kepulan uap, maupun lumpur panas,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, lumpur panas yang muncul di permukaan terbentuk secara alami akibat proses geologi di dalam bumi. Fluida panas dari reservoir yang mendekati permukaan mengalami kondensasi dan berinteraksi dengan lapisan batuan, sehingga memunculkan fenomena lumpur panas.

    Pri Utami menambahkan, manifestasi tersebut memiliki cakupan yang terbatas dan hanya muncul pada titik-titik tertentu, sehingga tidak menyebar luas baik di permukaan maupun di bawah tanah.

    Ia juga meluruskan anggapan yang kerap menyamakan fenomena tersebut dengan kasus Semburan Lumpur Lapindo. Menurutnya, kedua peristiwa tersebut memiliki karakteristik dan skala yang sangat berbeda.

    “Fenomena ini tidak sama dengan lumpur Lapindo yang berasal dari formasi batuan dalam dan menyebar luas,” tegasnya.

    Lebih lanjut, ia memastikan bahwa lumpur yang muncul bukan berasal dari aktivitas pengeboran geothermal. Lumpur pemboran yang digunakan dalam proses eksplorasi dikelola melalui sistem tertutup dan tidak dibuang ke lingkungan sekitar.

    Laman: 1 2

  • Atlet Kempo Michelle Nasak Kembali Berprestasi di Tingkat Nasional

    Atlet Kempo Michelle Nasak Kembali Berprestasi di Tingkat Nasional

    infopertama.com – Michelle Berliana Saquandra Nasak, Atlet Kempo asal Manggarai, NTT kembali menorehkan prestasi gemilang di level nasional yang digelar baru-baru ini.

    Dalam kejuaraan Norma Baru Kejuaraan Kempo Nasional Pelajar dan Mahasiswa Antara Provinsi 2026 dengan Tema Meraih dan memantapkan prestasi Pelajar dan Mahasiswa Indonesia untuk menyongsong Masa Depan yang Cemerlang, Michelle B.S. Nasak bermain di kelas Kata Tunggal Putri dan Kata Sinkronik Putri.

    Pada Kata Perorangan Pelajar Putri Kategori V yang diikuti ratusan atlet dari berbagai provinsi se Indonesia ini, Michelle Nasak yang tercatat sebagai siswi kelas XI SMA Negeri 1 Langke Rembong meraih peringkat I (Pertama).

    Ia mampu mengungguli atlet Jawa Barat Azura Prizella Alchaniga di posisi kedua, serta Janu Hendriani (NTB) dan Ulandari (Kalteng) di posisi ketiga.

    Sementara pada Kata Sinkronik Pelajar Putri Kategori II, putri bungsu Kaban Pendapatan Manggarai Kanisius Nasak ini meraih peringkat kedua.

    Mechella B.S. Nasak bersama dua rekannya Fiorensa Olivia Sena dan Margaretha Eldryani Ros kalah bersaing dengan atlet sesama NTT, Fotina Ardu, Juliani Hanu dan Juliana Feriman yang meraih peringkat I Kata Sinkronik Pelajar Putri.

    Michelle Berlian Nasak kepada infopertama.com mengaku bangga bisa meraih Juara I Nasional Kata Perorangan Pelajar Putri dan juara II Kata Sinkronik.

    Terinspirasi Ayah

    Demikian Michelle, mengaku menekuni olahraga Kempo karena terinspirasi dari sang ayah, Kanisus Nasak yang juga merupakan atlet kempo.

    Ayahnda, Kanis Nasak selalu mendampingi putri bungsu, Michelle B. Nasak.

    “Saya sangat terinspirasi dari papa saya, terutama soal ketekunan dalam berlatih, soal kedisiplinan. Papa Kanis selalu meyakinkan kami bahwa apapun harus dilakukan dengan sungguh, sebab hasil tidak akan mengkhianati proses.”

    Laman: 1 2

  • Rumah Produksi Sari Temulawak Ulumbu, Cara PLN UIP Nusra Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Sekitar PLTP Ulumbu

    Rumah Produksi Sari Temulawak Ulumbu, Cara PLN UIP Nusra Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Sekitar PLTP Ulumbu

    Ruteng, infopertama.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus memperkuat kontribusi sosial melalui program benefit sharing yang menyasar pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah proyek.

    Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pembangunan rumah produksi Sari Temulawak Ulumbu bagi Kelompok Wela Sita Werek di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai.

    Pembangunan satu unit rumah produksi yang rampung pada Oktober 2025 itu kini telah dimanfaatkan secara aktif oleh kelompok usaha beranggotakan 24 warga setempat untuk mendukung kegiatan produksi minuman herbal berbahan dasar temulawak.

    Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN dalam memastikan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan turut menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah proyek.

    Ketua Kelompok Wela Sita Werek, Evodia Alut, mengatakan kelompoknya telah menjadi binaan PT PLN (Persero) UIP Nusra sejak 2024.

    Menurut dia, keberadaan rumah produksi menghadirkan perubahan signifikan terhadap aktivitas usaha yang sebelumnya dijalankan secara sederhana dengan keterbatasan fasilitas.

    Sebelumnya, proses produksi dilakukan di dapur rumah pribadi dengan fasilitas terbatas dan kondisi bangunan yang kurang memadai untuk menunjang kegiatan produksi secara optimal.

    Keterbatasan ruang dan fasilitas kerap menjadi tantangan bagi kelompok usaha tersebut dalam meningkatkan kapasitas produksi.

    “Dulu kami produksi di dapur sendiri, tempatnya sempit dan sering bocor kalau hujan. Sekarang kami sudah punya tempat yang layak dan jauh lebih nyaman untuk bekerja,” ujar Evodia.

    Laman: 1 2 3 4

  • Hubungan Tanpa Status, Pelarian Emosional Wanita di Usia Dewasa

    Hubungan Tanpa Status, Pelarian Emosional Wanita di Usia Dewasa

    “Tempat Wanita Kesepian Memberi Semua Tanpa Jaminan”

    infopertama.com – Inilah fenomena hubungan tanpa status. Bahasa kerennya sekarang: situationship. Bahasa warung kopi: “hubungan meka ka’eng, glundang-glundung”. Jalan iya, berhenti enggak, jelas apalagi.

    Hubungan model begini makin sering terjadi di usia dewasa. Terutama pada wanita mapan, mandiri, punya karier bagus, tapi diam-diam kesepian setelah pulang kerja.

    Hubungan tanpa status sering dianggap modern, santai, bebas drama, anti ribet.

    Padahal kalau dipikir-pikir, konsep ini mirip “kumpul kebo versi digital”. Dekat seperti pasangan, melakukan semuanya seperti pasangan, bahkan kadang tinggal serumah seperti suami istri… tapi tanpa kepastian dan tanpa perlindungan emosional yang jelas.

    Yang mengerikan, banyak berita penganiayaan, pembunuhan berawal dari hubungan yang tidak jelas statusnya. Karena ketika cinta berjalan tanpa aturan, emosi sering lebih liar daripada logika.

    Dan anehnya… banyak orang tetap nyaman menjalaninya.

    1. Wanita Dewasa Sering Bukan Kurang Cinta, Tapi Kurang Teman Pulang

    Di usia dewasa, lingkaran pertemanan mulai mengecil. Teman-teman sibuk menikah. Sementara sebagian wanita lain masih sendirian.

    Di titik itu, perhatian kecil jadi terasa besar.

    Padahal dulu perhatian kecil begitu dianggap biasa saja. Sekarang? Bisa bikin senyum sendiri sambil tiduran

    Karena ternyata manusia dewasa itu sering kesepian secara diam-diam.

    2. Hubungan Tanpa Status Terasa Nyaman Karena Tidak Ada Tuntutan

    Tidak ada kewajiban memberi kabar 24 jam.

    Tidak ada drama keluarga.

    Tidak ada status yang harus dipertanggungjawabkan.

    Semuanya terasa ringan.

    Kalau cocok lanjut.

    Kalau capek tinggal menghilang.

    3. Wanita Mapan Sering Terjebak karena  Terlalu Kuat di Luar, Tapi Lelah di Dalam

    Wanita mapan biasanya terbiasa semuanya sendiri, Bayar tagihan sendiri. Nyetir sendiri. Ambil keputusan sendiri.

    Laman: 1 2 3

  • Pesta Babi Yang Menakutkan?

    Pesta Babi Yang Menakutkan?

    Oleh: Benny K. Harman

    Agak lucu rasanya melihat instrumen negara tiba-tiba panik mengerahkan aparat hanya untuk menyita proyektor sebuah film pendek.

    Apakah Pesta Babi dilarang karena menyebar kebohongan, atau justru karena ia terlalu jujur menempatkan cermin di depan wajah kekuasaan yang buruk rupa karena keserakahan?

    Pesannya seolah benderang: di republik ini kita diizinkan untuk hidup, tapi sayangnya tidak diizinkan untuk berpikir. Mari refleksikan sejenak kondisi demokrasi kita hari ini melalui catatan berikut. —-

    infopertama.com – Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir.

    Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan yang telanjang. Film Pesta Babi dilarang bukan karena ia menyebarkan kebohongan, melainkan justru karena ia menceritakan kebenaran dengan terlalu jujur.

    Sinema ini bertindak sebagai pemegang cermin di hadapan wajah kekuasaan, dan penguasa—yang menyadari betapa buruk rupa mereka akibat keserakahan—memilih untuk memecahkan cermin tersebut daripada memperbaiki diri.

    Gugatan paling mendasar dari film ini menelanjangi jargon “pembangunan” yang selama ini diagungkan bagai berhala. Hari ini, kita menyaksikan lahirnya watak neo-kolonialisme yang dipraktikkan oleh bangsa sendiri terhadap bangsanya sendiri.

    Logikanya persis seperti VOC ratusan tahun lalu: ruang hidup masyarakat lokal dan masyarakat adat dianggap sebagai “tanah tak bertuan” yang boleh dijarah demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi makro.

    Masyarakat adat, yang telah merawat hutan dan tanah secara berkelanjutan jauh sebelum Republik ini berdiri, hari ini dibranding secara pejoratif sebagai “penghambat investasi” atau “kelompok keras kepala yang anti-kemajuan.” Ini adalah kejahatan epistemik. Atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN) atau konsesi korporasi, negara hadir bukan sebagai pelindung warga, melainkan sebagai juru sita yang mengusir rakyat dari tanah leluhurnya.

    Laman: 1 2 3 4