Film dokumenter advokasi, dengan segala intensitas emosionalnya, tidak menghasilkan hal-hal itu. Ia hanya menghasilkan perasaan. Dan perasaan, selama tidak diterjemahkan ke dalam kekuatan kolektif yang terorganisir, adalah aman—bahkan berguna bagi status quo.
Seorang pejabat negara yang sinis mungkin berkata: “Biarkan mereka menonton film dan marah-marah di media sosial. Besok mereka tetap membayar pajak dan tetap tidak ikut demo.” Seorang pengusaha yang sinis mungkin berkata: “Biarkan mereka merasa peduli. Produk kita tetap laku.”
Film seperti Pesta Babi adalah katup pengaman revolusi: ia memberi ruang bagi emosi publik untuk dilepaskan dengan cara yang tidak mengancam struktur kekuasaan.
Penonton sebagai Munafik: Antara Air Mata dan Gaya Hidup
Ujian terakhir untuk penonton: Apakah Anda bersedia kehilangan kenyamanan? Apakah Anda bersedia membayar pajak lebih tinggi untuk redistribusi tanah? Apakah Anda bersedia mendukung kebijakan yang membatasi investasi demi perlindungan ekologis—meskipun itu berarti harga barang naik? Apakah Anda bersedia memboikot produk-produk perusahaan yang terlibat dalam konflik agraria? Apakah Anda bersedia turun ke jalan dan berhadapan dengan aparat?
Jika jawabannya tidak, maka air mata Anda untuk masyarakat adat adalah air mata palsu. Anda tidak benar-benar peduli; Anda hanya ingin merasa peduli. Dan film dokumenter advokasi adalah industri yang melayani kebutuhan Anda akan perasaan itu. Anda membayar untuk merasa menjadi orang baik. Dan setelah merasa cukup, Anda kembali ke hidup Anda yang nyaman, tanpa perubahan apa pun.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



