Dengan menyembunyikan kompleksitas itu, film justru merendahkan masyarakat adat. Ia mengatakan: “Kamu tidak cukup dewasa untuk ditampilkan apa adanya. Kamu perlu dilindungi dari sorotan kritis. Kami dari kota akan memutuskan representasi mana yang baik untukmu.” Ini adalah kolonialisme advokasi versi baru: orang kota yang berpendidikan tinggi menentukan narasi tentang orang desa yang “primitif” namun “suci”.
Masyarakat Adat sebagai Alat, Bukan Tujuan
Lebih jauh lagi, dalam logika industri penderitaan, masyarakat adat bukanlah tujuan dari film—mereka adalah alat. Alat untuk membangkitkan emosi penonton. Alat untuk membangun reputasi sineas. Alat untuk menggalang donasi. Alat untuk memenangkan penghargaan di festival film. Buktinya: setelah film selesai dan penghargaan diterima, apakah ada perubahan struktural yang sungguh-sungguh terjadi di tanah adat? Seringkali tidak. Yang terjadi adalah: masyarakat adat tetap dalam penderitaan yang sama, sementara pembuat film naik panggung, penonton pulang dengan perasaan lega, dan semua orang melanjutkan hidup. Inilah kekejaman yang paling tersembunyi: penderitaan difilmkan agar bisa diabaikan dengan lebih nyaman. Karena setelah difilmkan, penderitaan itu menjadi “sudah diketahui publik”, menjadi “sudah disuarakan”, menjadi “sudah mendapatkan perhatian”.
Dan dengan status itu, tuntutan untuk bertindak secara konkret menjadi berkurang, bukan bertambah.
Katarsis Murah—Mengapa Penonton Adalah Konsumen Moral Perasaan sebagai Pengganti Aksi
Penonton film dokumenter advokasi, terutama di kalangan kelas menengah urban, adalah konsumen moral yang ulung. Mereka membeli tiket, duduk di kursi bioskop yang nyaman, menonton penderitaan orang lain dari jarak aman, menangis di bagian yang menyayat hati, merasa marah pada pemerintah dan pengusaha, lalu bertepuk tangan saat film usai.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



