Kemudian mereka pulang, menulis status di media sosial, membagikan poster film, dan merasa telah “melakukan sesuatu”.Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Mereka mengonsumsi penderitaan sebagai komoditas. Sama seperti mereka mengonsumsi kopi atau pakaian, mereka mengonsumsi air mata masyarakat adat untuk memenuhi kebutuhan afektif mereka: kebutuhan untuk merasa peduli, kebutuhan untuk merasa berada di pihak yang benar, kebutuhan untuk merasa berbeda dari “mereka yang tidak peduli”.Inilah yang saya sebut katarsis murah.
Dalam tragedi Yunani kuno, katarsis adalah pembersihan emosi yang diikuti oleh tindakan—penonton dibersihkan agar bisa kembali ke polis dengan kesadaran baru. Dalam film dokumenter modern, katarsis justru menjadi pengganti tindakan. Setelah menangis, penonton merasa cukup. Mereka tidak perlu lagi turun ke jalan, tidak perlu lagi mengadvokasi perubahan UU, tidak perlu lagi mengubah gaya hidup mereka. Cukup dengan menonton dan merasa, mereka sudah menyelesaikan “kewajiban moral” mereka.
Negara dan Kapital Tidak Takut pada Air Mata
Ini adalah kebenaran yang paling pahit: negara dan pengusaha tidak takut pada film seperti Pesta Babi. Mereka tidak takut pada air mata penonton di bioskop. Mereka tidak takut pada status media sosial yang marah. Mereka tidak takut pada petisi online yang ditandatangani ribuan orang. Mengapa? Karena semua itu tidak mengancam profit mereka.
Yang ditakuti oleh negara dan pengusaha adalah: pemogokan massal, pemboikotan ekonomi yang terorganisir, tekanan hukum yang berhasil, perubahan regulasi yang sungguh-sungguh mengikat, dan aksi langsung yang mengganggu rantai pasok mereka.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



