Saya tidak akan bertanya apakah film itu benar atau salah dalam faktanya. Saya akan bertanya: Siapa yang diuntungkan ketika penderitaan masyarakat adat difilmkan, diedarkan, dan dikonsumsi sebagai tontonan moral? Jawabannya mungkin mengejutkan: bukan hanya masyarakat adat. Bahkan, dalam banyak hal, masyarakat adat bisa menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan—sementara pihak lain, termasuk pembuat film dan penonton, menuai keuntungan simbolik yang signifikan. Ini adalah kritik atas ekonomi politik kemartiran.
Saya akan membongkar tiga mekanisme: ekstraksi simbolik, paternalisme korban murni, dan katarsis murah. Pada akhirnya, saya akan sampai pada pertanyaan yang paling tabu: Apakah menonton film seperti ini membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, atau hanya membuat Anda merasa lebih baik?
Ekstraksi Simbolik—Ketika Kamera Menjadi Alat EksploitasiPersamaan Struktural antara Ekstraksi Tanah dan Ekstraksi Citra
Kritik terhadap negara dan pengusaha selalu tajam: mereka mengekstrak nilai surplus dari tanah dan tenaga kerja masyarakat adat. Tanah diambil, hutan ditebang, sumber daya dieksploitasi. Masyarakat adat kehilangan ruang hidup, sementara negara mendapat PDB dan pengusaha mendapat keuntungan. Tapi mari kita lihat film dokumenter advokasi dengan kacamata yang sama. Apa yang dilakukan oleh kamera? Kamera mendatangi masyarakat adat, merekam air mata mereka, merekam luka mereka, merekam kemarahan mereka. Lalu rekaman itu diedit, diberi narasi dramatis, diberi musik yang menyayat hati, dan dikemas menjadi sebuah produk. Produk ini dijual—melalui tiket bioskop, platform streaming, festival film, atau donasi yang masuk ke lembaga produksi. Pembuat film mendapatkan kapital budaya: nama mereka dikenal, mereka diundang sebagai pembicara, mereka mendapat penghargaan. Penonton mendapatkan kapital moral: mereka merasa telah “menyaksikan ketidakadilan” dan dengan demikian merasa telah melakukan sesuatu yang bermakna.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



