Cepat, Lugas dan Berimbang

Ketika Penderitaan Menjadi Komoditas: Kritik atas Ekonomi Politik Kemartiran dalam Film Dokumenter Advokasi

Tidak ada jawaban yang mudah. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini harus tetap diajukan, karena tanpa pertanyaan itu, kritik kita hanya menjadi gaya bicara belaka—tanpa konsekuensi, tanpa transformasi.

Kesimpulan: Dari Menonton ke Bertindak

Esai ini tidak bertujuan melarang orang menonton film dokumenter advokasi. Ia juga tidak bertujuan merendahkan niat baik para pembuat film yang mungkin sungguh-sungguh peduli. Tujuan esai ini adalah memecah ilusi bahwa menonton setara dengan bertindak, bahwa merasa setara dengan mengubah, bahwa mengonsumsi penderitaan sebagai tontonan sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang berpihak.

Kebenaran yang tidak nyaman adalah: tidak ada katarsis yang membebaskan tanpa pengorbanan nyata. Jika Anda tidak kehilangan sesuatu—waktu, uang, kenyamanan, hubungan, keamanan—maka Anda belum bertindak. Anda hanya menonton. Dan menonton, betapa pun intensnya secara emosional, tetaplah menonton.

Film seperti Pesta Babi bisa menjadi pintu masuk. Tapi pintu masuk bukanlah tujuan. Jika setelah menonton Anda hanya pulang dan melanjutkan hidup, maka Anda adalah bagian dari masalah yang sama yang Anda kutuk dalam film. Anda mengkonsumsi penderitaan seperti komoditas. Anda adalah konsumen moral, bukan agen perubahan.

Kritik terhadap film dokumenter advokasi harus berakhir pada pertanyaan yang paling pribadi, paling tidak nyaman, paling tidak bisa dijawab dengan retorika: Apa yang telah Anda korbankan untuk keadilan yang Anda klaim bela? Jika jawabannya “tidak ada” atau “hampir tidak ada”, maka mulailah dari sana. Karena keadilan tidak lahir dari kursi bioskop. Ia lahir dari jalanan yang panas, dari ruang sidang yang melelahkan, dari boikot yang merugikan, dari politik yang kotor, dan dari hidup yang sungguh-sungguh dipertaruhkan. Atau, dengan kata yang lebih singkat: Berhentilah menonton penderitaan. Mulailah menderita bersama mereka. Hanya dengan begitu kata “solidaritas” tidak lagi menjadi omong kosong. SALVETE!

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN