Ia berharap pendampingan teknis dan motivasi terus dilakukan dengan pendekatan budaya Manggarai, terutama melalui semangat lejong atau kebersamaan, agar kelompok tetap kompak, mau belajar, bekerja keras, dan konsisten menanam.
“Kita semua sama dalam kelompok ini. Orang non-disabilitas juga bisa bergabung untuk belajar dan bekerja bersama,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Rikhardus Roden, narasumber dari Yayasan Ayo Indonesia, menjelaskan bahwa perubahan iklim kini menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat Manggarai. Ia menyebut pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas telah menempatkan Manggarai sebagai salah satu wilayah prioritas dalam penanganan dampak perubahan iklim di sektor pertanian.
Menurut Rikhardus, dampak perubahan iklim di Manggarai terlihat dari menurunnya hasil produksi pertanian dan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah. Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Manggarai Tahun 2025 yang menunjukkan produksi padi dan beras terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Produksi padi yang pada 2018 mencapai 99.682 ton turun menjadi 83.516 ton pada 2024. Sementara produksi beras menurun dari 58.086 ton menjadi 48.918 ton pada periode yang sama.
Selain berdampak pada produksi pangan, perubahan iklim juga memengaruhi ketersediaan air. Berdasarkan data PDAM Manggarai Tahun 2024, debit air pada 31 titik mata air di enam kecamatan mengalami penurunan rata-rata sebesar 44,32 persen. Beberapa sumber mata air bahkan mengalami penurunan debit hingga di atas 70 persen.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







