Cepat, Lugas dan Berimbang

Yayasan Ayo Indonesia Edukasi Dampak Perubahan Iklim bagi Kelompok Disabilitas di Desa Persiapan Wade

Oplus_131072

Rikhardus menjelaskan bahwa menurunnya produksi sayuran di Manggarai juga membuka peluang keuntungan bagi petani dari luar daerah. Menurutnya, saat ini pasokan sayuran di Pasar Ruteng semakin banyak dikuasai petani dari luar Manggarai karena stok hasil pertanian lokal mengalami penurunan akibat perubahan iklim.

“Perubahan iklim menyebabkan hasil pertanian semakin tidak stabil. Petani semakin sulit menentukan musim tanam dan menghadapi risiko gagal panen yang lebih tinggi,” katanya.

Rikhardus menegaskan bahwa perubahan iklim sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca. Emisi tersebut berasal dari asap kendaraan bermotor, aktivitas industri dan pabrik, pembakaran sampah, pembakaran hutan dan lahan, penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan, serta kerusakan hutan yang mengurangi kemampuan alam menyerap karbon.

“Kalau kerusakan lingkungan terus terjadi, maka suhu bumi akan terus meningkat dan dampaknya paling dirasakan masyarakat kecil yang hidup dari pertanian,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya adaptasi terhadap perubahan iklim, Elisabeth Silviana dan Josima Ayuni Gandut, mahasiswa magang dari Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng di Yayasan Ayo Indonesia, secara bergantian memberikan edukasi tentang arang hayati atau biochar sebagai salah satu solusi ramah lingkungan untuk menjaga kesuburan tanah di tengah perubahan iklim.

Mereka menjelaskan bahwa biochar merupakan arang yang dihasilkan dari pembakaran bahan organik seperti ranting, sekam, dan limbah pertanian dengan teknik tertentu sehingga mampu menyimpan karbon lebih lama di dalam tanah. Biochar dinilai bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air, memperbaiki struktur tanah, menjaga unsur hara, serta membantu tanaman bertahan pada kondisi kekeringan maupun curah hujan tinggi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN