Cepat, Lugas dan Berimbang

Dari Tanah Kering, Tumbuh Harapan Baru di Tado

Oplus_131072

infopertama.com – Di Kampung Tado, Desa Tado, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, panas bukan sekadar cuaca—ia adalah kenyataan sehari-hari. Dengan curah hujan yang hanya berlangsung sekitar enam bulan dalam setahun dan sangat bergantung pada kondisi cuaca dari Pulau Sumba, air menjadi sesuatu yang tak selalu bisa diandalkan.

Kondisi lahannya didominasi tanah berbatu dengan topografi agak miring. Saat musim hujan, daya resap air tergolong baik sehingga tanah tidak mengalami kejenuhan yang berisiko merusak akar tanaman, termasuk sorgum. Di sisi lain, lahan yang terbuka memungkinkan sinar matahari masuk secara optimal, mendukung pertumbuhan tanaman di tengah keterbatasan air.

Suhu udara dapat mencapai 30 derajat Celsius, mempercepat hilangnya air dari permukaan tanah. Dalam kondisi seperti ini, bertani sering kali lebih dekat pada ketidakpastian.

Bagi Eginius Dahat (58), situasi itu sudah lama ia jalani. Ia tidak memiliki sawah dan harus membeli beras setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, lahan seluas satu hektar miliknya sempat dibiarkan kosong—kering dan dianggap tidak produktif.

Kondisi ini juga mencerminkan situasi yang lebih luas di Manggarai.

Data produksi beras dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang tidak sepenuhnya stabil. Pada 2018, produksi beras tercatat sebesar 58.086 ton. Angka ini kemudian menurun menjadi 53.626 ton pada 2019, dan relatif stagnan di kisaran 53.811 ton pada 2020. Sempat meningkat pada 2021 hingga 56.484 ton, produksi kembali menurun pada 2022 menjadi 51.755 ton, bahkan turun tajam pada 2023 ke angka 46.611 ton—terendah dalam periode tersebut.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN