Cepat, Lugas dan Berimbang

Dari Tanah Kering, Tumbuh Harapan Baru di Tado

Oplus_131072

Pada 2024 dan 2025, produksi mulai menunjukkan sedikit pemulihan, masing-masing sebesar 48.918 ton dan 49.060 ton. Namun demikian, angka ini masih belum mampu menyamai capaian tahun-tahun sebelumnya.

Fluktuasi ini bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi petani—perubahan pola hujan, keterbatasan air, dan semakin rentannya sistem produksi pangan berbasis beras. Ketergantungan pada satu jenis pangan pun menjadi semakin berisiko.

Namun, di tengah kondisi yang tampak sulit itu, perubahan mulai tumbuh sejak 2023.

Dari Pendampingan ke Perubahan

Melalui program pengembangan sorgum oleh Yayasan Ayo Indonesia bersama Yayasan KEHATI, Eginius mulai mencoba sesuatu yang baru. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan lejong, yang membangun relasi seperti keluarga.

Setiap minggu, Gusto, pendamping lapangan, datang mengunjungi Eginius. Dari percakapan sederhana itulah, kepercayaan tumbuh.

“Waktu saya lejong dengan Om Egi, dia sangat serius mendengarkan saat saya menjelaskan tentang sorgum. Dia orangnya terbuka,” kata Gusto.

Meski telah lama mengenal pola musim, Eginius menyadari bahwa perubahan iklim membuat waktu tanam semakin sulit diprediksi. Perkiraan kadang meleset, hasil tidak selalu pasti.

Namun, hal itu tidak mematahkan semangatnya.

Di balik proses pendampingan itu, ada upaya yang tidak ringan. Gusto harus menempuh perjalanan dari Borong ke Tado menuju wilayah pesisir selatan Manggarai, menyusuri jalan yang sebagian aspalnya berlubang. Ia juga melewati bibir pantai yang ditumbuhi aneka jenis pohon dan tanaman khas yang mampu bertahan di lingkungan pesisir yang keras.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN