Sebagai ibu, keduanya memiliki dorongan kuat untuk memastikan pangan selalu tersedia di rumah. Dalam keseharian, merekalah yang menjaga dapur tetap “menyala”.
Mereka mulai menanam sorgum dengan benih varietas Super 1. Hasilnya, Alosia memperoleh sekitar 150 kilogram dan Katarina sekitar 100 kilogram.
Seluruh hasil panen dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga. Sorgum dicampur dengan beras dan dinilai tetap enak, bahkan tanpa pemupukan karena tanah masih mengandung unsur hara alami. Namun, untuk meningkatkan produktivitas ke depan, penggunaan pupuk organik menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan.
Di sinilah tantangan baru muncul. Ketiadaan ternak membuat sumber pupuk organik belum tersedia, menjadikannya pekerjaan rumah yang harus dihadapi ke depan. Meski demikian, manfaat yang sudah dirasakan jauh lebih nyata—pengeluaran untuk membeli beras mulai berkurang.
Pengalaman itu menjadi bekal penting. Bagi Alosia dan Katarina, hasil yang mereka lihat dan rasakan sendiri cukup untuk menumbuhkan keyakinan. Mereka pun berkomitmen untuk terus menanam sorgum sebagai sumber pangan keluarga.
Dari Satu Lahan ke Banyak Harapan
Pengalaman Eginius tidak berhenti di lahannya sendiri. Ia mulai berbagi benih dan pengetahuan kepada petani lain.
Dalam pertemuan petani sorgum di Ruteng pada 27 Februari yang dihadiri 24 peserta, ia menyampaikan bahwa sorgum dapat menjadi solusi untuk mengurangi biaya pangan sekaligus menambah pendapatan.
Ia juga mendorong pembentukan kelompok tani agar pengembangan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menumbuhkan Masa Depan dari Lahan Kering
Kini, penanaman sorgum dilakukan secara rutin mengikuti musim, yaitu November dan Januari.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







