Perjalanan itu belum berakhir di sana. Di beberapa titik, ia harus melewati kali tanpa jembatan. Saat musim hujan tiba, arus air meningkat dan membuat perjalanan menjadi jauh lebih berisiko. Tidak jarang ia harus menunggu air surut atau mencari jalur alternatif.
Perjalanan itu melelahkan, tetapi tetap ia jalani secara rutin. Bagi Gusto, setiap kunjungan bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari komitmen untuk memastikan pendampingan tetap berjalan.
Panen dari Lahan yang Pernah Ditinggalkan
Eginius mulai menanam sorgum di lahannya tanpa pupuk kimia. Bersama istrinya, ia merawat tanaman itu hingga panen.
Hasil pertama mencapai sekitar 600 kilogram. Sebanyak 250 kilogram digunakan untuk konsumsi keluarga dengan mencampur sorgum dan beras dalam komposisi 60:40. Pola ini membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Sisanya dijual dengan harga sekitar Rp12.000 per kilogram, menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp4,3 juta. Sebagian juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan.
Perubahan yang Menggerakkan
Perubahan di kebun Eginius tidak berhenti pada dirinya sendiri. Hingga kini, setidaknya 11 petani mulai belajar dan mengikuti praktik budidaya sorgum, dengan total luas lahan mencapai kurang lebih 5 hektar.
Dari jumlah tersebut, dua di antaranya adalah Alosia F. Ganut (58) dan Katarina Jenat yang telah berusia sekitar 80 tahun.
Ketertarikan mereka bermula dari apa yang mereka lihat langsung di lapangan. Lahan kering yang berubah menjadi hijau menghadirkan kemungkinan baru. Melihat pengalaman yang menjawab persoalan pangan, mereka pun tergerak untuk mengikuti.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







