Cepat, Lugas dan Berimbang

Di Bawah Terik Lembor: Belajar Mengatur Uang dan Harapan Hidup

infopertama.com – Udara siang itu terasa panas—sekitar 30 derajat Celsius—ketika tim KSP CU Florette memasuki Kampung MIS, Lembor. Jalanan sebagian besar sudah mulus, meski beberapa meter terakhir masih berbatu, mengikuti lekuk perbukitan. Di kiri kanan jalan, pohon jati merah tumbuh subur berdampingan dengan pepohonan lain dan semak belukar, menghadirkan lanskap hijau yang menenangkan.

Bagi Rikardus, pemandangan itu bukan sekadar keindahan alam.

“Pohon-pohon ini seperti uang yang kita simpan untuk jangka panjang,” ujarnya.

“Kalau dirawat, suatu saat akan memberi hasil.”

Perjalanan ini merupakan bagian dari agenda pendampingan KSP CU Florette. Bersama Srianus Syukur dan Dion, Rikardus bertemu anggota di Tempat Pelayanan (TP) MIS Lembor—lejong, berbagi cerita tentang hidup dan mengelola keuangan.

Pertemuan di TP MIS Lembor

Kegiatan pendidikan literasi keuangan dimulai pukul 11.30 WITA, difasilitasi oleh Katarina Sumur, Koordinator TP MIS. Sebanyak 20 anggota hadir, mayoritas perempuan dan hanya empat laki-laki. Mereka berasal dari berbagai latar belakang—Ende, Soa, Boawae, Cireng, Pongkor, hingga Rahong—namun terikat dalam relasi sosial yang kuat selama puluhan tahun.

Secara keseluruhan, TP Mis memiliki 64 anggota, dengan total simpanan Rp201.462.111 dan total pinjaman Rp225.072.000. Mereka mendapatkan pelayanan setiap bulan oleh staf KSP CU Florette.

Saat mulai kegiatan, cuaca masih terik tanpa tanda hujan. Namun tak lama kemudian, langit berubah mendung. Hujan turun deras, memecah siang yang panas. Meski demikian, tidak satu pun peserta beranjak. Mereka tetap bertahan hingga kegiatan selesai pukul 13.00 WITA.

Kesadaran yang Tumbuh di Tengah Diskusi

Di tengah diskusi, seorang perempuan tampak memangku anak balitanya. Sambil menenangkan sang anak, ia memberanikan diri berbicara.

“Saya sadar sekarang, pendapatan keluarga saya lebih kecil dari pengeluaran,” ujarnya pelan namun tegas.

Ia mengaku selama ini uang datang dan pergi tanpa perencanaan. Pendidikan hari itu menjadi titik balik—membuka kesadaran bahwa ia perlu lebih bijak mengatur pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga. Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan terima kasih kepada KSP CU Florette.

Cerita ini mencerminkan realitas banyak anggota. Pendapatan mereka umumnya berasal dari upah harian serta penjualan ternak seperti ayam dan babi—masih berskala kecil dan bersifat subsisten.

Antara Kebutuhan Hidup dan Emosi Sosial

Di sisi lain, pengeluaran terus meningkat. Kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan komunikasi harus terpenuhi. Selain itu, ada pula kebutuhan sosial yang tak terhindarkan—pesta sambut baru (komuni pertama), pesta sekolah atau wuat wai (pengumpulan dana pendidikan), acara adat, hingga kumpul kope untuk pernikahan.

Di sinilah kehidupan menjadi kompleks.

Dalam kehidupan masyarakat Manggarai, emosi sosial adalah kekuatan. Ia menjaga relasi, memperkuat solidaritas, dan memastikan tidak ada yang berjalan sendiri.

Namun tanpa kendali, kekuatan yang sama dapat berubah menjadi tekanan. Kewajiban sosial tidak lagi sekadar pilihan nilai, tetapi menjadi keharusan: harus hadir, harus memberi, harus terlibat. Bukan selalu karena mampu, tetapi karena rasa—tak enak, malu, atau takut dianggap tidak peduli.

Di titik inilah banyak pengeluaran lahir—bukan dari kebutuhan, tetapi dari rasa. Tanpa disadari, hal ini dapat mendorong pengeluaran melampaui kemampuan dan, dalam kondisi tertentu, memicu konflik sosial bahkan kekerasan dalam rumah tangga.

“Kalau tidak direncanakan, kita bisa terus kekurangan,” kata Richard, pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya perencanaan keuangan, termasuk memikirkan masa depan anak. Menabung untuk anak bukan sekadar menyimpan uang, tetapi menyiapkan penopang kehidupan ketika orang tua tidak lagi produktif.

Menabung sebagai Warisan yang Berubah Bentuk

Di tengah diskusi, Rikardus mengajak peserta kembali pada akar budaya. Ia menceritakan kebiasaan masyarakat Manggarai sekitar tahun 1930-an yang menabung dalam bentuk padi dan jagung. Hasil panen disimpan dalam cecer, wadah bambu, sebagai jaminan ketahanan pangan hingga musim berikutnya.

“Menabung itu warisan budaya kita,” katanya. “Sekarang kita lanjutkan dalam bentuk yang berbeda.”

Hari ini, menabung hadir dalam bentuk simpanan wajib di koperasi—sebuah langkah sadar untuk melindungi masa depan.

Koperasi sebagai Rumah Bersama

Rikardus menegaskan bahwa KSP CU Florette bukan sekadar lembaga keuangan, tetapi rumah bersama.

“Ini rumah bersama untuk merawat kebersamaan demi mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi kita dan anak-anak kita,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya disiplin: menabung secara rutin, meminjam secara bijak, dan mencicil kewajiban tepat waktu.

“Kalau hari ini kita punya uang, pastikan sebagian ditabung. Tindakan hari ini menentukan kualitas hidup di hari esok,” tambahnya.

Dengan jumlah anggota sekitar 7.000 orang, KSP CU Florette memiliki harapan besar untuk tumbuh bersama. Hal ini didukung oleh tata kelola yang terus diperkuat—tertib, transparan, berasas kekeluargaan, dan berorientasi pada kebutuhan anggota.

Ke depan, Florette tidak hanya fokus pada pendidikan keuangan, tetapi juga mendorong pengembangan usaha pertanian dan peternakan berbasis bisnis. Pelatihan, pendampingan teknis, akses permodalan, hingga informasi pasar menjadi bagian dari strategi tersebut. Pendidikan menjadi fondasi yang menyatukan arah dan tujuan anggota.

Pulang di Tengah Hujan

Hujan mulai reda menjelang siang. Kegiatan berakhir, tetapi pesannya tinggal lama di benak peserta—tentang pentingnya mengubah perilaku dan merawat keuangan. Sebagian peserta dan tim kemudian makan siang bersama.

Tiga “rasul ekonomi” Florette kembali ke Ruteng dengan sebuah Avanza putih. Di sepanjang perjalanan, hujan turun deras disertai kabut tebal.

Perjalanan itu mengingatkan satu hal: kebaikan bersama tidak pernah mudah.

Namun di tengah hujan dan kabut, jalan pulang terasa ringan—seolah membawa semangat baru untuk terus berinovasi dan melayani.

Sebab menuju harapan selalu menuntut lebih: tata kelola yang baik, kedewasaan mengelola emosi sosial, dan kesetiaan untuk tetap berjalan.

Dan dalam segala keterbatasan, langkah itu tidak boleh berhenti.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN