Kesadaran yang Tumbuh di Tengah Diskusi
Di tengah diskusi, seorang perempuan tampak memangku anak balitanya. Sambil menenangkan sang anak, ia memberanikan diri berbicara.
“Saya sadar sekarang, pendapatan keluarga saya lebih kecil dari pengeluaran,” ujarnya pelan namun tegas.
Ia mengaku selama ini uang datang dan pergi tanpa perencanaan. Pendidikan hari itu menjadi titik balik—membuka kesadaran bahwa ia perlu lebih bijak mengatur pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga. Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan terima kasih kepada KSP CU Florette.
Cerita ini mencerminkan realitas banyak anggota. Pendapatan mereka umumnya berasal dari upah harian serta penjualan ternak seperti ayam dan babi—masih berskala kecil dan bersifat subsisten.
Antara Kebutuhan Hidup dan Emosi Sosial
Di sisi lain, pengeluaran terus meningkat. Kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan komunikasi harus terpenuhi. Selain itu, ada pula kebutuhan sosial yang tak terhindarkan—pesta sambut baru (komuni pertama), pesta sekolah atau wuat wai (pengumpulan dana pendidikan), acara adat, hingga kumpul kope untuk pernikahan.
Di sinilah kehidupan menjadi kompleks.
Dalam kehidupan masyarakat Manggarai, emosi sosial adalah kekuatan. Ia menjaga relasi, memperkuat solidaritas, dan memastikan tidak ada yang berjalan sendiri.
Namun tanpa kendali, kekuatan yang sama dapat berubah menjadi tekanan. Kewajiban sosial tidak lagi sekadar pilihan nilai, tetapi menjadi keharusan: harus hadir, harus memberi, harus terlibat. Bukan selalu karena mampu, tetapi karena rasa—tak enak, malu, atau takut dianggap tidak peduli.
Di titik inilah banyak pengeluaran lahir—bukan dari kebutuhan, tetapi dari rasa. Tanpa disadari, hal ini dapat mendorong pengeluaran melampaui kemampuan dan, dalam kondisi tertentu, memicu konflik sosial bahkan kekerasan dalam rumah tangga.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan