Di Bawah Terik Lembor: Belajar Mengatur Uang dan Harapan Hidup

“Kalau tidak direncanakan, kita bisa terus kekurangan,” kata Richard, pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya perencanaan keuangan, termasuk memikirkan masa depan anak. Menabung untuk anak bukan sekadar menyimpan uang, tetapi menyiapkan penopang kehidupan ketika orang tua tidak lagi produktif.

Menabung sebagai Warisan yang Berubah Bentuk

Di tengah diskusi, Rikardus mengajak peserta kembali pada akar budaya. Ia menceritakan kebiasaan masyarakat Manggarai sekitar tahun 1930-an yang menabung dalam bentuk padi dan jagung. Hasil panen disimpan dalam cecer, wadah bambu, sebagai jaminan ketahanan pangan hingga musim berikutnya.

“Menabung itu warisan budaya kita,” katanya. “Sekarang kita lanjutkan dalam bentuk yang berbeda.”

Hari ini, menabung hadir dalam bentuk simpanan wajib di koperasi—sebuah langkah sadar untuk melindungi masa depan.

Koperasi sebagai Rumah Bersama

Rikardus menegaskan bahwa KSP CU Florette bukan sekadar lembaga keuangan, tetapi rumah bersama.

“Ini rumah bersama untuk merawat kebersamaan demi mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi kita dan anak-anak kita,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya disiplin: menabung secara rutin, meminjam secara bijak, dan mencicil kewajiban tepat waktu.

“Kalau hari ini kita punya uang, pastikan sebagian ditabung. Tindakan hari ini menentukan kualitas hidup di hari esok,” tambahnya.

Dengan jumlah anggota sekitar 7.000 orang, KSP CU Florette memiliki harapan besar untuk tumbuh bersama. Hal ini didukung oleh tata kelola yang terus diperkuat—tertib, transparan, berasas kekeluargaan, dan berorientasi pada kebutuhan anggota.

Laman: 1 2 3 4

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses