Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★
infopertama.com – Kasus penculikan siswi sekolah dasar di Sumedang oleh seorang guru honorer dan peristiwa pelecehan terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta tampak berdiri di dua kutub yang berbeda.
Dalam kasus pertama, guru menjadi pelaku penyimpangan serius. Dalam kasus kedua, guru justru menjadi korban perilaku tidak beradab dari muridnya.
Namun, jika ditarik lebih dalam, keduanya memperlihatkan satu persoalan yang sama: retaknya relasi moral antara guru dan murid.
Pada Kasus di Purwakarta, seorang guru bernama Syamsiah justru menunjukkan keteladanan yang langka. Meski menjadi korban tindakan tidak pantas, ia memilih memaafkan dan tetap mendoakan murid-muridnya agar menjadi pribadi yang lebih baik. Ia bahkan menegaskan bahwa tugas guru adalah membimbing, bukan menghukum semata.
Sikap ini menghadirkan ironi sekaligus harapan. Di tengah merosotnya etika sebagian siswa, masih ada guru yang memegang teguh nilai pendidikan sebagai proses pembentukan karakter.
Sebaliknya, pada kasus di Sumedang, posisi guru sebagai teladan justru runtuh. Relasi yang seharusnya melindungi berubah menjadi ancaman. Di titik ini, pendidikan kehilangan fondasi moralnya.
Dalam perspektif pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bertumpu pada prinsip ing ngarsa sung tuladha, di depan; guru harus memberi teladan. Keteladanan bukan sekadar atribut tambahan, melainkan inti dari otoritas moral seorang pendidik.
Ketika guru menyimpang, yang runtuh bukan hanya dirinya, tetapi juga kepercayaan anak terhadap dunia. Sebaliknya, ketika murid kehilangan adab terhadap guru, yang terkoyak adalah penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Fenomena ini dapat dibaca melalui teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura (1977), yang menegaskan bahwa perilaku terbentuk melalui observasi dan imitasi. Jika anak tidak lagi melihat figur teladan baik di sekolah, keluarga, maupun ruang publik, maka standar perilaku pun menjadi kabur.
Di sisi lain, teori perkembangan psikososial Erik Erikson (1950; 1968) menunjukkan bahwa anak dan remaja membangun identitas melalui interaksi sosial yang sehat.
Ketika relasi dengan guru rusak, baik karena kekerasan maupun hilangnya rasa hormat, proses pembentukan identitas ini ikut terganggu.
Kasus Purwakarta dan Sumedang pada akhirnya bukan sekadar anomali. Ia adalah gejala. Ada krisis yang lebih dalam: melemahnya internalisasi nilai dalam dunia pendidikan.
Di satu sisi, kita melihat guru yang kehilangan integritas. Di sisi lain, kita menyaksikan murid yang kehilangan adab. Keduanya bertemu dalam satu ruang yang sama di sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya karakter.
Di sinilah relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara menjadi semakin mendesak. Keteladanan tidak bisa ditawar. Ia harus hadir, baik dari guru maupun dari sistem yang membentuknya.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi tentang menghadirkan manusia yang beradab. Dan ketika ing ngarsa kehilangan tuladha, yang tersisa hanyalah ruang kosong tanpa arah, tanpa nilai.
★Dosen Fakultas Psikologi UST Yogyakarta Owner Harmonia Psychocare
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp ChanelÂ
Â







