Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★
infopertama.com – Kasus penculikan siswi sekolah dasar di Sumedang oleh seorang guru honorer dan peristiwa pelecehan terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta tampak berdiri di dua kutub yang berbeda.
Dalam kasus pertama, guru menjadi pelaku penyimpangan serius. Dalam kasus kedua, guru justru menjadi korban perilaku tidak beradab dari muridnya.
Namun, jika ditarik lebih dalam, keduanya memperlihatkan satu persoalan yang sama: retaknya relasi moral antara guru dan murid.
Pada Kasus di Purwakarta, seorang guru bernama Syamsiah justru menunjukkan keteladanan yang langka. Meski menjadi korban tindakan tidak pantas, ia memilih memaafkan dan tetap mendoakan murid-muridnya agar menjadi pribadi yang lebih baik. Ia bahkan menegaskan bahwa tugas guru adalah membimbing, bukan menghukum semata.
Sikap ini menghadirkan ironi sekaligus harapan. Di tengah merosotnya etika sebagian siswa, masih ada guru yang memegang teguh nilai pendidikan sebagai proses pembentukan karakter.
Sebaliknya, pada kasus di Sumedang, posisi guru sebagai teladan justru runtuh. Relasi yang seharusnya melindungi berubah menjadi ancaman. Di titik ini, pendidikan kehilangan fondasi moralnya.
Dalam perspektif pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bertumpu pada prinsip ing ngarsa sung tuladha, di depan; guru harus memberi teladan. Keteladanan bukan sekadar atribut tambahan, melainkan inti dari otoritas moral seorang pendidik.
Ketika guru menyimpang, yang runtuh bukan hanya dirinya, tetapi juga kepercayaan anak terhadap dunia. Sebaliknya, ketika murid kehilangan adab terhadap guru, yang terkoyak adalah penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






