Fenomena ini dapat dibaca melalui teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura (1977), yang menegaskan bahwa perilaku terbentuk melalui observasi dan imitasi. Jika anak tidak lagi melihat figur teladan baik di sekolah, keluarga, maupun ruang publik, maka standar perilaku pun menjadi kabur.
Di sisi lain, teori perkembangan psikososial Erik Erikson (1950; 1968) menunjukkan bahwa anak dan remaja membangun identitas melalui interaksi sosial yang sehat.
Ketika relasi dengan guru rusak, baik karena kekerasan maupun hilangnya rasa hormat, proses pembentukan identitas ini ikut terganggu.
Kasus Purwakarta dan Sumedang pada akhirnya bukan sekadar anomali. Ia adalah gejala. Ada krisis yang lebih dalam: melemahnya internalisasi nilai dalam dunia pendidikan.
Di satu sisi, kita melihat guru yang kehilangan integritas. Di sisi lain, kita menyaksikan murid yang kehilangan adab. Keduanya bertemu dalam satu ruang yang sama di sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya karakter.
Di sinilah relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara menjadi semakin mendesak. Keteladanan tidak bisa ditawar. Ia harus hadir, baik dari guru maupun dari sistem yang membentuknya.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi tentang menghadirkan manusia yang beradab. Dan ketika ing ngarsa kehilangan tuladha, yang tersisa hanyalah ruang kosong tanpa arah, tanpa nilai.
★Dosen Fakultas Psikologi UST Yogyakarta Owner Harmonia Psychocare
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan