Retaknya Ruang Aman Remaja

Remaja
Sejumlah pelayat sedang melakukan salat jenazah Ilham Dwi Saputra (16), korban penganiayaan asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Senin (20/4/2026) (Foto: Ist)

Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★

infopertama.com – Kematian Ilham Dwi Saputra (16), pelajar asal Bantul, kiranya tidak berhenti sebagai catatan kriminal semata. Peristiwa ini menghadirkan cermin retak tentang persoalan yang lebih dalam, yakni dinamika psikologis remaja yang kerap luput dari perhatian kita bersama.

Ilham meninggal dunia setelah mengalami kekerasan secara berkelompok. Ia dipukul, disiksa, dan diperlakukan di luar batas kepatutan.

Aparat menyebut motif peristiwa ini sebagai balas dendam yang berakar dari konflik antarkelompok remaja. Namun, penjelasan tersebut agaknya belum memadai.

Kita perlu menengok lebih jauh: bagaimana konflik dalam kalangan remaja dapat berkembang menjadi kekerasan yang demikian ekstrem?

Dalam psikologi perkembangan, masa remaja dipahami sebagai fase pencarian jati diri. Erik Erikson menyebut tahap ini sebagai identity versus role confusion, ketika individu berupaya menjawab pertanyaan mendasar tentang siapa dirinya dan di mana ia merasa menjadi bagian.

Ketika proses ini tidak berjalan utuh, remaja cenderung mencari pijakan melalui kelompok sebaya. Di titik ini, kelompok tidak lagi sekadar ruang pergaulan, melainkan juga menjadi sumber makna dan harga diri.

Loyalitas dibangun, kerap kali, melalui batas yang tegas antara “kita” dan “mereka”.

Dalam situasi demikian, gesekan kecil dapat dimaknai sebagai ancaman terhadap identitas kolektif. Kekerasan pun, dalam batas tertentu, dapat dipersepsikan sebagai bentuk pembelaan.

Akan tetapi, identitas semata tidak cukup menjelaskan mengapa kekerasan dapat berlangsung sedemikian rupa.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel