Dari Sinode Menuju Aksi: KBG sebagai Gereja yang Berjuang Melalui Ekaristi

Gereja yang Berjuang Melalui Ekaristi

infopertama.com – Hari-hari mengikuti Sidang Sinode Keuskupan Ruteng terus mengajak saya berpikir tentang masa depan Manggarai. Berbagai persoalan yang dihadapi umat muncul dengan sangat jelas: kemiskinan, judi online, pengangguran, utang, penjualan tanah, hingga kecenderungan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalah hidup tanpa perencanaan dan kerja keras.

Gereja sesungguhnya sudah lama mengambil bagian melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kelompok tani, koperasi, dan berbagai pelayanan sosial lainnya. Namun kita perlu bertanya dengan jujur: mengapa kemiskinan masih tinggi? Mengapa judi online semakin marak? Mengapa banyak keluarga terjebak utang? Mengapa masih ada yang menjual tanah warisan demi memenuhi kebutuhan sesaat?

Kehadiran Bupati Manggarai dalam sidang Sinode memberikan ruang refleksi yang menarik. Beliau menyampaikan bahwa masih ada sekitar 65 ribu warga yang hidup dalam kemiskinan. Pada saat yang sama, sebagian besar masyarakat Manggarai menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Data BPS juga menunjukkan bahwa sekitar 60 persen penduduk bekerja sebagai petani.

Namun pertanyaan pentingnya adalah: jika mayoritas masyarakat adalah petani, mengapa kita masih mendatangkan berbagai komoditas hortikultura dari daerah lain seperti Bajawa? Mengapa hasil pertanian kita belum mampu bersaing secara kuat di pasar? Mengapa kesejahteraan petani masih menjadi persoalan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk melakukan refleksi bersama. Persoalan kita bukan semata-mata kurangnya lahan atau sumber daya alam. Persoalan yang lebih mendasar adalah produktivitas yang masih rendah, lemahnya kelembagaan ekonomi petani, keterbatasan akses pasar, dan terutama lemahnya daya saing serta daya juang.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel