infopertama.com – Di bagian belakang kompleks SLBN Peot, tepatnya di sisi timur, terbentang lahan seluas kurang lebih 2.000 meter persegi yang kini dikembangkan menjadi Kebun Harapan.
Di lahan ini, para guru bersama anak-anak penyandang disabilitas belajar menata bedeng, memasang plastik mulsa, menanam, dan merawat sayuran. Kebun tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran keterampilan sekaligus membuka peluang penghasilan tambahan bagi sekolah. Bagi anak-anak yang tinggal di asrama, kebun ini disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan sayuran dalam menu sehari-hari.
Berawal dari Gerakan KBG
Gagasan pemanfaatan lahan untuk ketahanan pangan dan gizi berawal dari gerakan di tingkat Komunitas Basis Gerejani (KBG).
Mansianus Jemarus, Ketua KBG Lingkungan Santo Mikhael, Wilayah Santo Gabriel Stasi Peot, menjelaskan bahwa pemanfaatan pekarangan merupakan bentuk nyata dari tindak lanjut katekese di KBG.
“Setiap KK wajib melaksanakan pemanfaatan pekarangan untuk pangan dan gizi melalui pengembangan sayur berbasis organik sebagai salah satu bentuk kepedulian umat dalam menjaga kesehatan alam dan lingkungan,” ungkapnya.
Semangat tersebut makin konkret saat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, Yohanes Sentis, S.P., beserta jajarannya mengunjungi SLBN Peot. Sekolah didorong untuk menyusun proposal pengembangan kebun. Karena Dinas Pertanian belum memiliki anggaran pendukung, proposal tersebut diteruskan kepada sejumlah mitra, termasuk Yayasan Ayo Indonesia dan KEHATI. Dari sinilah kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan Yayasan Ayo Indonesia mulai berkembang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












