Orang-Orang Penabur Angin

Padahal, kemenangan paling bermartabat justru lahir ketika seseorang mampu menjaga harga dirinya tanpa menjatuhkan martabat orang lain. Diam, dalam konteks tertentu, juga bisa menjadi cara menjaga diri agar tidak berubah menjadi angin yang sama. Sebab manusia yang terlalu lama hidup dalam kebencian perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara luka dan pelampiasan. Ia mulai menikmati pertikaian dan merasa penting ketika berhasil menjatuhkan orang lain. Tanpa sadar, ia sedang menabur badai bagi dirinya sendiri.

Mungkin karena itu, sebagian orang memilih menepi dan berjalan ke laut, berbicara dengan kesunyian, atau menulis dalam kesendirian. Bukan karena menyerah pada dunia, melainkan karena ingin menyelamatkan kejernihan batinnya. Menulis menjadi jalan agar luka tidak berubah menjadi racun. Kesedihan diterjemahkan menjadi perenungan, sementara kemarahan diolah menjadi makna.

Dalam laku hidup Jawa, manusia diajarkan untuk eling lan waspada agar selalu ingat dan berhati-hati. Ingat pada batas diri, serta waspada agar tidak mudah terseret dalam keramaian yang kehilangan arah. Sebab setenang apa pun angin, jika terus dipelihara, ia dapat tumbuh menjadi badai.

Pada akhirnya, hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk mengembalikan segala sesuatu kepada asalnya. Angin yang ditebar hari ini tidak pernah benar-benar hilang. Ia berputar, mencari waktunya, lalu kembali kepada mereka yang pertama kali melepaskannya.

Karena itu, pepatah lama tetap menemukan relevansinya hingga hari ini. “Barang siapa yang menabur angin, dialah yang akan menuai badai”. Tidak ada kebencian yang benar-benar selesai setelah dilemparkan kepada orang lain. Tidak ada fitnah yang sepenuhnya lenyap setelah diperdengarkan. Setiap kata meninggalkan jejak, hidup dalam ingatan, lalu kembali sebagai akibat.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel