Ironisnya, mereka yang paling gemar menabur angin sering merasa sedang membela kebenaran. Bisik-bisik dianggap kepedulian, fitnah dibungkus sebagai keberanian, sementara provokasi dipahami sebagai bentuk perjuangan.
Padahal tidak semua keramaian lahir dari ketulusan. Sebagian justru tumbuh dari hasrat untuk diakui dan keinginan menjadi pusat perhatian.
Dalam khazanah Jawa, sikap demikian dikenal melalui istilah adigang, adigung, adiguna merasa paling kuat, paling besar, dan paling pintar. Ketika manusia dikuasai watak semacam itu, percakapan tidak lagi menjadi ruang mencari kebijaksanaan, melainkan arena mempertontonkan ego. Orang lebih sibuk memenangkan suara daripada memahami persoalan.
Akibatnya, badai sosial sering muncul bukan karena persoalan besar, melainkan karena bara kecil yang terus ditiup. Potongan cerita dipelintir, ucapan ditambahi, lalu disebarkan berulang-ulang hingga kebohongan perlahan terdengar seperti kenyataan. Pada titik tertentu, masyarakat tidak lagi sibuk mencari kebenaran, melainkan mencari siapa yang paling ramai didukung.
Di tengah keadaan seperti itu, memilih diam acap kali dianggap kelemahan. Padahal, diam tidak selalu berarti takut. Ada orang yang memilih tidak membalas karena memahami bahwa tidak semua lumpur harus disentuh dengan tangan. Sebagian kegaduhan justru membesar karena terlalu banyak diladeni.
Filosofi Jawa mengenal ajaran menang tanpa ngasorake menang tanpa merendahkan. Sebuah nilai yang terasa semakin langka di tengah budaya yang gemar mempermalukan orang lain demi terlihat benar.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan