Tag: Katolik

  • Doa Rosario dan Aksi Diakonia bagi Difabel di KBG Santo Yosep Woang

    Doa Rosario dan Aksi Diakonia bagi Difabel di KBG Santo Yosep Woang

    infopertama.com – Umat Kelompok Basis Gerejani (KBG) Santo Yosep Woang menggelar doa Rosario bersama pada Minggu malam, 3 Mei 2026, mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WITA, bertempat di rumah Ketua KBG, Rikhardus Roden Urut. Kegiatan ini turut dihadiri Vikaris Paroki, Pater Konrad SVD, yang berbaur bersama umat dalam suasana doa penuh kekeluargaan.

    Doa Rosario berlangsung dalam semangat komunio, melibatkan umat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, yang bersama-sama berdevosi kepada Bunda Maria. Kebersamaan iman ini menjadi tanda hidupnya spiritualitas umat di tingkat basis.

    Dalam kesempatan yang sama, umat KBG Santo Yosep juga menyerahkan bantuan kasih kepada seorang anak difabel, Apri, yang merupakan bagian dari keluarga KBG. Bantuan tersebut diserahkan oleh Pater Konrad kepada ibu dari Apri sebagai bentuk kepedulian nyata umat terhadap sesama, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan.

    Ketua KBG, Rikhardus Roden Urut, dalam penjelasannya menyampaikan bahwa kegiatan pastoral di KBG Santo Yosep terus berkembang, salah satunya melalui pembentukan kelompok sharing Kitab Suci. Kelompok ini lahir dari inisiatif ibu-ibu bersama Seksi Pewartaan sebagai tindak lanjut dari kunjungan pastoral Tim Sinode IV Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong pada Maret 2026.

    “Sharing Kitab Suci dilaksanakan setiap malam Minggu dan hingga kini telah berjalan enam kali pertemuan. Tujuannya adalah untuk mendekatkan umat pada Sabda Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam kehidupan menggereja, baik di keluarga, KBG, maupun paroki,” ujar Rikhardus.

    Laman: 1 2 3

  • Fitness Centre -Salon Kecantikan dan Kisah Komuni Pertama

    Fitness Centre -Salon Kecantikan dan Kisah Komuni Pertama

    (sekadar satu perenungan)

    Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukanlah ke dalam lambungKu…
    (Yesus kepada Thomas)
    Yohanes 20:27

    Kons Beo, SVD

    infopertama.com – Siapakah yang tak sayang akan tubuhnya sendiri? Tidakkah, agar tubuh terlihat tegap, kokoh, padat berotot, kekar, maka orang tentu mesti rajin ke Gym? Di tempat itu ada serangkaian paduan aktivitas ‘pengototan fisik.’ Iya, Gym itu adalah tempat di mana fitness centre dipraktekkan.

    Selain Gym dengan fitness centre-nya ada lagi salon kecantikan. Di situ, alur tubuh dirias jadi molek bestari. Untaian rambut, alis mata, atau segala ini itu ditata rapih setelitinya. Sebab, seseorang, katakan kaum hawa pada umumnya mesti terlihat aduhai penuh pesona ‘yang tidak ada obat memang.’ Siapa yang tak ingin terlihat atraktif berdaya pikat?

    Tentu, demi tampilan fisik yang serba meyakinkan itu, duit yang mesti digelontorkan itu ‘tak maen-maen. Bukan sembarangan.’ Semua detailnya itu selangit biayanya. Oh iya, yang punya jadwal tetap ke salon itu, katanya, bukanlah insan dari kalangan ekonomi seret, lelet tertati-tati. Bukan! Tidak juga dari kelompok orang dengan menu harian di bawah standar. Sebab, ada ‘hukum nutrisi’ demi bentuk tubuh yang mesti ditaati. Demi kebugaran, keindahan dan terlihat padat berotot itu.

    Mari tinggalkan dulu Gym, Fitness Centre dan Salon kecantikan. Beralihlah kita ke rumah tempat Para Rasul berkumpul setelah peristiwa Kebangkitan Yesus. Yesus memakai rumah itu sebagai area penampakan atau tampilanNya di hadapan para muridNya.

    Yang diperlihatkan Yesus bagi para muridNya itu adalah tangan dan lambungNya. Malah, delapan hari sesudahnya, kepada Thomas yang penuh ragu itu, Yesus mendesak, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucuklah ke dalam lambungKu…” (Yohanes 20:27).

    Tubuh yang diperlihatkan Yesus, bila direnung acak-acakan, adalah sebentuk rupa anti alam Gym dengan Fitness Centre-nya, atau Tubuh kontra alam salon kecantikan – keindahan. Tak ada raga nan elok rupawan yang diperlihatkan Yesus. Tak ada praktek adakadabra setelah kebangkitan, bahwa TubuhNya telah tampak anggun dan tampan. Tak ada. Tetap ada memar di tubuh dan masih terdapat bekas paku pada tangan. Pun terlihat nyata lambung terluka dalam yang ditembus tombak kebengisan.

    Dan?

    Thomas pun mesti menyentuh, dan ‘bersatu dengan dan ke dalam Tubuh yang tetap terluka itu.’ Yesus yang bangkit tetaplah Yesus yang menderita dan telah lewati kematian yang mengerikan. Ternyata Yesus yang tetap teraniaya dan terluka itu hadir nyata dalam saudara-saudari dan kemanusiaan yang terluka.

    Kepada Saulus yang berkobar-kobar untuk mengejar dan membunuh murid-murid Tuhan, ada suara dari Langit yang berseru, “Akulah Yesus yang kau aniaya” (cf Kisah Para Rasul 9:4-5). Yesus yang tetap terluka itulah saudara-saudari yang terzalimi, teraniaya, yang tertekan oleh varian tidak kekerasan, oleh praktik ketidakadilan, diskriminasi dan intoleran.

    Kembali kisah Thomas.
    Dan persis di alam suasana terluka itulah suara Yesus bagi Thomas mesti ternyatakan: ‘rabahlah, sentuhlah, masukan jarimu, mendekatlah, dan terlibatlah dalam memerangi alam derita penuh pilu ini.’

    Jika harus menyimak kata-kata agung Yesus dalam Perjamuan Akhir, “Terimalah dan makanlah kamu semua, inilah TubuhKu yang diserahkan bagi kamu,” maka para murid, Gereja, kita sekalian, tak hanya siap untuk diteguhkan oleh Santapan Rohani Tubuh dan Darah Tuhan. Tetapi juga, lebih dari itu, semua siap dan rindu bersatu dengan Yesus, Tubuh yang menderita dan tersalibkan!

    Rolheiser (Seeking Spirituality), lebih dari tiga puluh tahun silam, jelaskan dua kata Yunani mengenai tubuh, daging. Itulah Soma dan Sarx. Soma itu tubuh, daging dalam konotasi positif. Kita rindu dan tertarik akan tubuh yang sehat, indah, kuat. Iya, Soma itu. Tetapi, sebaliknya, kita takut, cemas, tak tertarik, akan tubuh yang sakit, memar dan terluka, yang tak elok dipandang.

    Laman: 1 2

  • Antara Selat Hormuz dan Paskah Kita

    Antara Selat Hormuz dan Paskah Kita

    (sekadar satu perenungan)

    Kons Beo, SVD

    infopertama.com – Ini bukan hanya soal baku hantam Tel Aviv – Washington versus Teheran. Sekadar menguji kecanggihan mesin-mesin perang demi saling melumpuhkan. Untuk buktikan pihak mana yang alami kerugian lebih parah. Dan nantinya harus takluk dan menyerah kalah. Ternyata?

    Iran itu punya modal kuat untuk menekan Israel dan Amerika Serikat. Tak hanya perlawanan militer sebagai reaksi. Ada selat Hormuz sebagai ‘senjata geografi strategis’ demi mengganggu perekonomian global.

    Selat sepanjang kurang lebih 167 km dengan lebar di area sempit 35 km dan terjauh sepanjang 95 km itu telah dipikir matang oleh Iran untuk dikuasai dan diblok seketatnya. Selat Hormuz itu hubungkan teluk Persia dengan teluk Oman, dan bermuara ke laut Arab dan Samudra Hindia. Selepas dari Selat Hormuz, segala jenis armada laut, ya terutama kapal-kapal tanker bisa bebas berlayar ke tujuannya.

    Di selat Hormuz, saban hari, tercatat “sekitar 21 juta barel minyak per hari atau sekitar 21 persen konsumsi minyak dunia lewati jalur ini. Begitupun dengan pasokan gas alam cair (LNG) di perkiraan 20 persen konsumsi global lewati selat Hormuz.

    Dunia pada tahu. Selat Hormuz itu, oleh hukum global punya status internasional. Tak boleh ada negara manapun yang mengklaimnya sepihak. Namun, Iran tak peduli. Bahkan sejak tahun 1993, dengan undang-undang dalam negerinya sendiri, “Iran mewajibkan izin terlebih dahulu bagi kapal perang dan militer asing yang ingin melintas.” Iran tak mau berada dalam risiko ancaman jadi nyata. Sekiranya militer asing itu berulah.

    Laman: 1 2 3 4 5

  • Hujan Tak Meredam Iman Umat di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong

    Hujan Tak Meredam Iman Umat di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong

    Ruteng, infopertama.com – Di bawah guyuran hujan deras yang menggenangi jalan menuju Gereja Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, seorang ibu berjalan perlahan sambil menggendong bayinya. Satu tangannya memeluk erat sang anak, tangan lainnya menggenggam payung yang tak sepenuhnya mampu menahan derasnya air yang turun dari langit. Ia tidak sendiri. Sore itu, ribuan umat tetap melangkah menuju gereja—membawa iman yang tak surut, bahkan sebelum perayaan Jumat Agung dimulai pukul 15.00 WITA.

    Dalam suasana basah dan dingin, tampak pula bapak-bapak bersama istri mereka berjalan berdampingan menuju gereja. Mereka memegang payung, berusaha melindungi diri, namun hembusan angin membuat sebagian pakaian mereka tetap basah. Meski harus menerobos genangan air di jalan, langkah mereka tidak terhenti—tetap mantap, seolah menegaskan bahwa iman lebih kuat dari cuaca yang menghadang.

    Pada pagi hari, sejak pukul 06.30 hingga 09.30 WITA, umat Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong telah lebih dahulu mengikuti ibadat lamentasi dan jalan salib di Natas Labar, Ruteng, bersama umat dari tujuh paroki dalam Gugus Kota. Cuaca saat itu cerah, langit terbuka, dan panas matahari menyinari lapangan tempat umat berkumpul. Doa-doa dan nyanyian dilantunkan sepanjang tablo kisah sengsara Tuhan Yesus di tengah lapangan Natas Labar. Umat mengenakan topi adat, berpakaian merah, serta bersarung songke dengan beragam motif, menghadirkan perpaduan iman dan budaya yang hidup dalam suasana yang khidmat dan menyentuh.

    Namun suasana berubah pada siang hari. Sejak sekitar pukul 13.00 WITA, hujan mulai turun dengan derasnya dan terus mengguyur hingga menjelang perayaan Jumat Agung. Jalan menuju gereja pun perlahan tergenang air, menghadirkan tantangan tersendiri bagi umat yang tetap datang untuk beribadah.

    Laman: 1 2 3 4

  • Silentium Magnum Sambut Paskah Sekber 7 Paroki Dalam Kota Ruteng

    Silentium Magnum Sambut Paskah Sekber 7 Paroki Dalam Kota Ruteng

    Ruteng, infopertama.com – Menyambut Hari Raya Paskah 2026, sekretariat bersama 7 (tujuh) Paroki dalam kota Ruteng membuat seruan bersama Jumat Hening (Silentium Magnum).

    Seruan Silentium Magnum ini dideklarasikan bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai dan unsur Forkompinda dan FKUB Manggarai di Aula Paroki St Vitalis Cewonikit, Senin, 30 Maret 2026.

    Pastor Paroki St Vitalis Cewonikit, RD Ardi Obot menjelaskan seruan Jumat Hening ini disampaikan dari pihak Keuskupan Ruteng untuk seluruhnya menjaga keheningan. Kemudian, untuk Paroki dalam kota Ruteng sangat diharapkan agar menjadi pioner pelaksanaan Jumaat Hening, dan tentu buat semua paroki sekeuskupan Ruteng.

    Sementara itu, Bupati Manggarai Herybertus Nabit dalam kesempatan itu mengatakan bahwa Pemerintah mendukung penuh dalam kaitan kelancaran seluruh proses perayaan paskah 2026.

    Bupati Berharap, keheningan ini diciptakan oleh umat Katolik, sedangkan bagi umat Non Katolik diminta toleransinya agar memahami Jumaat Hening ini pelaksanaan wajib dalam tradisi Gereja Katolik.

    Toleransi ini, kata Bupati sudah ditunjukkan dengan kehadiran perwakilan dari masing-masing pemimpin Agama di sini (Deklarasi Bersama Silentium Magnum) dan beberapa unsur organisasi keagamaan.

    Sementara itu, pihak keamanan TNI Polri dalam kesempatan itu menyatakan kesiapannya menjaga Kamtibmas hingga Perayaan Paskah 2026 usai.

    Hal itu disampaikan Kabag Opa Polres Manggarai, AKP Tonny Ndapa saat ditemui di lokasi, Senin, 29 Maret.

    Berikut Salinan Seruan Bersama. Jumat Hening (Silentium Magnum) nomor: 010 / PAN-PAS / PSVC / III / 2026

    Laman: 1 2

  • Minggu Palma di Paroki Ekuador, Umat Diingatkan Tetap Setia dalam Iman

    Minggu Palma di Paroki Ekuador, Umat Diingatkan Tetap Setia dalam Iman

    infopertama.com – Ribuan umat Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong (Ekuador) mengikuti perayaan Misa Minggu Palma 29 Maret 2026 dengan penuh khidmat dan sukacita.

    Perayaan yang dimulai pagi pukul 06.30 WITA hingga 09.25 WITA ini diawali dengan pemberkatan daun palma di dua lokasi, yakni di halaman Rumah Gendang Woang dan Tuke. Dari kedua titik tersebut, umat kemudian mengikuti prosesi menuju gereja sambil melambai-lambaikan daun palma sebagai simbol penyambutan Yesus Kristus yang memasuki Kota Yerusalem.

    Sejak pagi hari, umat telah memadati lokasi pemberkatan dengan penuh antusias. Prosesi berlangsung tertib dan penuh makna, menghidupkan kembali kisah Injil tentang perarakan Yesus ke Yerusalem sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius (Mat. 21:1-11).

    Pada perayaan Minggu Palma tahun ini, Wilayah Nasaret Ka Sama mendapat kepercayaan untuk melayani sebagai koor, lektor dan lektris, pemazmur, serta pembawa persembahan.

    Model kepanitiaan partisipatif ini telah diterapkan sejak tahun 2017, dengan pemberian tanggung jawab secara bergilir kepada wilayah-wilayah untuk mengatur pelaksanaan perayaan besar Gereja seperti Paskah dan Natal. Tahun ini, kepanitiaan Paskah dipercayakan kepada Wilayah Sungai Yordan.

    Dalam homilinya, Pater Kristianus Sambu, SVD, mengangkat tema “Sabda Tuhan adalah Pelita Hidup Kita”, seraya mengajak umat untuk menjadikan Sabda Tuhan sebagai terang yang menuntun perjalanan hidup beriman.

    Ia menegaskan bahwa perayaan Minggu Palma bukan sekadar mengenang peristiwa iman, tetapi menjadi panggilan untuk masuk dalam misteri penderitaan Kristus sebagaimana diwartakan dalam kisah sengsara Tuhan (Mat. 26:14–27:66).

    Laman: 1 2 3

  • “Lambaian Daun Palma: Itulah Nyanyian Cinta – Damai dan Keadilan”

    “Lambaian Daun Palma: Itulah Nyanyian Cinta – Damai dan Keadilan”

    Kons Beo, SVD

    infopertama.com – Masih mungkinkah rindu akan damai, cinta dan keadilan itu kembali bergelora membahana? Berterusteranglah kita. Kita lagi dibantai oleh banyak situasi ketakmenentuan.

    Ini tentu bukan aura pesimistik yang sengaja dihembuskan. Bukan! Di peta dunia yang lebih luas, tataplah wajah bumi yang makin tersayat dan tercabik. Jadi memar oleh bencana alam, teror politik – keamanan, dan kegalauan ekonomi.

    Apa semuanya itu mesti disebut suratan takdir? Bahwa bencana tak mungkin terhindarkan? Kita masih miliki ‘hati kotor dan kaki-tangan jahil’ untuk apapun yang suram dan seram.

    Kita sepertinya pasrah pada ‘dogma kaum puritan’ bahwa dunia ini adalah memang lahan dosa. Dan lebih menakutkan lagi bahwa ‘tabiat baik dan buruk dalam individu sepertinya hidup normal. Terasa biasa-biasa saja.’ Mesrah bergandeng tangan! Sambil hormati sisi kedaulatan masing-masingnya.’

    Dari mimbar-mimbar suci dilantangkanlah puisi cinta, didaraskanlah syair tobat, dan dilantunkanlah gema perdamaian. Namun, di alam nyata apa yang terjadi? Kita saling semburkan liur sindiran, gertak digelontorkan, dan tinju dikepalkan serta mata dipelototkan!

    Dari sepetak 47.000 meter persegi Lapangan St. Petrus di Roma, dari balik jendela atau pun dari podium utama, ada seruan penuh harapan akan Kasih, Keadilan dan Perdamaian. Lantang terucap. Namun, Ukraina dan Gaza tetap saja babak belur. Timur Tengah masih gelora membara. Ini belum terhitung lagi pada segala aksi teror dan kekerasan sporadis di sana-sini.

    Laman: 1 2 3

  • Apakah KBG Masih Menjadi Wajah Hidup Gereja?

    Apakah KBG Masih Menjadi Wajah Hidup Gereja?

    Oleh Rikhardus Roden Urut

    infopertama.com – Kunjungan pastoral ke 49 Komunitas Basis Gerejani (KBG) yang telah dilaksanakan di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong menjadi sebuah pengalaman iman yang patut disyukuri, terlebih dalam suasana masa prapaskah. Perjumpaan dengan umat di tingkat basis menghadirkan wajah Gereja yang nyata: sederhana, terbuka, inklusi, dekat, namun sekaligus menyimpan banyak harapan dan tantangan.

    Gereja, sebagaimana ditegaskan sejak Konsili Vatikan II, hidup dalam empat dimensi yang tak terpisahkan: pewartaan, pengudusan, pelayanan kasih, dan persekutuan. Keempatnya bukan sekadar bidang kerja, melainkan napas kehidupan iman itu sendiri. Teolog Avery Dulles menyebut Gereja sebagai communion of mission—persekutuan yang diutus, yang tidak hanya berkumpul, tetapi menghadirkan Kristus dalam kehidupan nyata.

    Sejarah lahirnya KBG mengingatkan kita akan jati dirinya. Komunitas ini bertumbuh dari pergulatan umat kecil di Amerika Latin sekitar tahun 1960–1970-an, di tengah himpitan kemiskinan dan ketidakadilan. Dalam Konferensi Medellín, Gereja menegaskan keberpihakannya kepada kaum kecil dan tersingkir, serta mendorong lahirnya komunitas basis sebagai bentuk Gereja yang hidup di tengah umat.

    Semangat ini kemudian diadopsi oleh Gereja di Indonesia melalui Konferensi Waligereja Indonesia (yang sebelumnya dikenal sebagai MAWI – Majelis Wali Gereja Indonesia) sekitar awal tahun 2000-an, sebagai arah pastoral untuk membangun Gereja yang lebih partisipatif, kontekstual, dan berakar pada kehidupan umat di tingkat basis.

    Laman: 1 2 3 4

  • Aktivis FAHAM Desak Ormas Forum NTT Bersatu Cabut Laporan Terhadap Romo Patris Allegro

    Ruteng, infopertama.com – Ormas Forum NTT Bersatu secara resmi melaporkan akun Romo Patris Allegro ke Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), atas dugaan pernyataan-pernyataan yang dinilai menghina ajaran Kristen Protestan.

    Laporan tersebut telah diajukan secara resmi ke Direktorat Siber Polda NTT untuk ditelaah oleh para ahli, guna menentukan apakah unsur pidana penistaan agama terpenuhi sebelum berlanjut ke tahap Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Demikian diberitakan oleh EnBe Indonesia.

    Menanggapi laporan dari Ormas Forum NTT Bersatu

    Teo Hanpalam, dari Forum Aktivis Hak Asasi Manusia (FAHAM) meminta orang yang mengatasnamakan Forum NTT Bersatu untuk segera mencabut laporannya. Menurut Teo, laporan tersebut tidak berdasar dikarenakan Romo Patris dinilai menjawab tudingan yang kerap kali dilontarkan oleh apologet dan rohaniwan Protestan yang menuduh ajaran Katolik Sesat dan Penyembah Patung.

    “Saya pikir, saudara kita dari Ormas Forum NTT Bersatu untuk membaca sejarah, membaca rekam jejak, bagaimana saudara dari Protestan seringkali menyinggung ajaran Katolik. Itu terjadi sejak zaman Martin Luther. Dan perlu diingat, Protestan itu adalah Denominasi dari Katolik. Jadi perdebatan soal ajaran dalam konteks apologetika, saya pikir tidak perlu diproses secara hukum.” Tegas Aktivis FAHAM, Teo Hanpalam.

    Ia menambahkan, ada beberapa Rohaniwan dan orang Protestan dalam konteks apologetika selalu menyinggung ajaran Katolik.

    Menurut Teo, hal itu sah saja, apologetika itu bagian dari proses pencarian kebenaran. Tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi sampai lapor Polisi.

    Laman: 1 2

  • Mengapa Sekolah Berbasis Agama Kian Diminati?

    Mengapa Sekolah Berbasis Agama Kian Diminati?

    Oleh: Pormadi Simbolon★ (Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Banten.

    infopertama.com – Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah swasta berbasis agama menjadi sorotan penting dalam lanskap pendidikan nasional. Sekolah-sekolah yang mengusung identitas keagamaan, baik madrasah, sekolah Kristen, maupun Katolik, kini menjadi pilihan utama banyak orang tua. Bahkan, ketika sekolah negeri tersedia secara gratis. Meskipun sekolah swasta lebih mahal, tetapi tetap dipilih karena hasilnya memuaskan dan sesuai harapan. Mengapa hal ini terjadi?

    Salah satu alasan mendasar adalah keinginan orang tua agar anak-anak mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tumbuh dengan karakter yang kuat, berakar pada nilai-nilai moral dan religius. Dalam situasi sosial yang makin kompleks, banyak keluarga merasa pendidikan berbasis agama menawarkan perlindungan moral, pengetahuan agama mendalam, kedisiplinan, dan arah hidup yang jelas bagi anak-anak mereka.

    Sekolah berbasis agama umumnya tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, kebiasaan doa atau refleksi harian, pembentukan etika sosial, serta penghayatan nilai-nilai hidup. Hal-hal ini sering kali dirasakan minim di sekolah negeri yang lebih menekankan aspek akademik dan administratif.

    Martin Buber, filsuf religius Yahudi, menyatakan bahwa “pendidikan bukanlah soal mentransfer informasi, melainkan membentuk manusia dalam relasi yang tulus.” Dalam konteks ini, banyak sekolah berbasis agama justru menghadirkan relasi pendidik dan peserta didik yang lebih personal, spiritual, dan manusiawi.

    Dalam pendekatan pedagogi Ignasian yang diterapkan di banyak sekolah Katolik, misalnya, pendidikan mencakup dimensi otak (kognitif), hati (afektif), dan tangan (aksi). Anak-anak diajak untuk berpikir kritis, merenung secara spiritual, dan bertindak secara etis. Inilah integrasi yang dirindukan banyak orang tua.

    Preferensi Masyarakat

    Preferensi ini bukan sekadar asumsi. Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2022 menunjukkan bahwa 63,1 persen responden menyatakan lebih percaya sekolah berbasis agama dalam hal pembentukan karakter. Hal senada muncul dalam studi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama (2021), yang menyebutkan bahwa mayoritas orang tua memilih madrasah atau sekolah Kristen/Katolik karena lingkungan yang religius, aman, dan disiplin.

    Pertumbuhan jumlah sekolah swasta berbasis agama juga menunjukkan tren yang konsisten. Data Kemenag RI menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, jumlah madrasah dan sekolah keagamaan swasta meningkat lebih cepat daripada sekolah negeri. Bahkan di daerah perkotaan yang memiliki akses luas ke sekolah negeri, sekolah agama tetap memiliki daya tarik tinggi.

    Bukan berarti sekolah negeri tidak memiliki potensi dalam membentuk karakter. Namun, dalam banyak kasus, dimensi ini tidak mendapat tempat memadai dalam desain pendidikan nasional. Pendidikan karakter sering diposisikan sebagai “muatan tambahan”, bukan inti. Kurikulum yang padat, evaluasi berbasis angka, dan tekanan administratif membuat guru-guru kesulitan menyentuh sisi pembentukan kepribadian peserta didik.

    Lebih jauh, pendekatan negara yang netral terhadap agama sering kali dipahami secara kaku, sehingga pendidikan nilai justru menjadi area kosong. Tidak jarang ditemukan, tidak semua sekolah negeri menyediakan guru Pendidikan yang seagama dengan pesrta didik. Padahal, nilai-nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan kasih sayang dapat diajarkan tanpa melanggar prinsip sekularisme negara.

    Paus Fransiskus dalam dokumen Educating to Fraternal Humanism (2017) menekankan bahwa, “tujuan pendidikan bukan hanya untuk membekali kaum muda dengan keterampilan, tetapi juga untuk membangun dunia yang lebih manusiawi, lebih adil, dan penuh kasih.” Pesan ini sejalan dengan keinginan masyarakat terhadap pendidikan yang menanamkan nilai spiritual.

    Demikian pula Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brasil, menegaskan bahwa “pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan aksi atas dunia untuk mengubahnya.” Pendidikan berbasis nilai, termasuk nilai agama, memungkinkan peserta didik tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab dan berani mengambil sikap etis dalam hidup.

    Momen Introspeksi

    Tingginya minat terhadap sekolah berbasis agama seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman terhadap sistem pendidikan nasional, melainkan sebagai kritik diam-diam dari masyarakat terhadap minimnya dimensi kemanusiaan dalam sekolah negeri. Negara perlu mendengar suara ini dengan lebih arif.

    Ki Hadjar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan harus menumbuhkan budi pekerti (karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak secara utuh. Prinsip ini kini lebih konsisten dihidupi oleh sekolah berbasis agama, yang merawat nilai-nilai dan spiritualitas sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.

    Pendidikan yang utuh—yang menyentuh aspek akal, hati, dan tindakan—merupakan kebutuhan semua manusia, bukan monopoli satu agama atau sistem tertentu. Sekolah negeri dapat belajar dari praktik baik sekolah berbasis agama, khususnya dalam hal pembiasaan nilai, relasi personal, dan penghayatan spiritualitas hidup.

    Saatnya sistem pendidikan nasional memberi ruang lebih besar bagi pendekatan pedagogis yang membentuk manusia seutuhnya, yang mencintai sesama manusia, lingkungan hidup dan Tuhan penciptnya, bukan sekadar administratif dan lulusan berijazah.

    ★Pormadi Simbolon adalah Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Banten.

    Tulisan ini telah tayang di Antaranews.com – 15 Juli 2025 dengan judul yang sama.

  • Di Gereja, Menag Ajak Pemeluk Agama Dekat dengan Agamanya

    Di Gereja, Menag Ajak Pemeluk Agama Dekat dengan Agamanya

    Makassar, infopertama.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak pemeluk agama untuk kembali mendekat pada ajaran agamanya masing-masing. Pesan ini ia sampaikan saat berkunjung ke Gereja Katedral Makassar.

    “Kita mengimbau kepada semua umat beragama, agama apapun, mari mengajak umatnya, pemeluknya untuk lebih akrab dengan agamanya sendiri. Jangan sampai agama dengan pemeluknya berjarak,” ujar Menag Nasaruddin Umar pada insan pers, Kamis (24/7/2025).

    Menag menilai jarak antara umat dan ajaran agamanya dapat melahirkan berbagai persoalan sosial. Karena itu, Kementerian Agama berkomitmen memperkuat kedekatan tersebut melalui pendekatan yang mencerahkan dan merangkul.

    “Inilah tantangan kami di Kementerian Agama. Bagaimana menyatukan antara umat beragama dengan ajaran agamanya. Jangan sampai berjarak,” jelasnya.

    Menag juga mengingatkan bahwa setiap ajaran agama pada hakikatnya menanamkan cinta, bukan kebencian.

    “Karena inti semua agama itu adalah cinta. Nah kalau ada orang mengajarkan agama, tetapi mendoktrin-kan kebencian dengan agama lain, itu bukan mengajarkan agama. Mengajarkan kebalikan agama,” tegasnya.

    Ia pun mendorong para tokoh agama untuk menghadirkan ajaran yang merangkul dan membangkitkan kasih sayang dalam setiap rumah ibadah.

    “Dakwah itu harus mengait orang, bukan mengusir orang,” pungkasnya.

  • Lima Gereja di Iran yang Paling Terkenal

    Lima Gereja di Iran yang Paling Terkenal

    infopertama.com – Sejarah Iran atau sejarah wilayah yang dulunya dikenal sebagai Persia telah menyaksikan banyak peristiwa, baik sosial maupun teknologi, agama, budaya, dan lain sebagainya. Perbedaan ras, bahasa, agama, dan secara umum semua perbedaan budaya yang ada saat ini disebabkan oleh sejarahnya yang panjang, lebih dari 4 milenium.

    Saat ini, meskipun agama Kristen tidak memiliki mayoritas penduduk Iran, tetapi agama ini bersama dengan Zoroastrianisme dan Yudaisme merupakan agama non-Islam di Iran dan memiliki lebih dari satu juta penganut.

    Keberadaan lebih dari 600 gereja di wilayah Iran saat ini menunjukkan bahwa sepanjang sejarah telah ada kehadiran agama Kristen yang signifikan di Iran dan saat ini memiliki lebih dari 300.000 penganut di seluruh Iran.

    Berikut ini, menukil Iran Negin Travel, lima gereja paling terkenal di Iran, yang dapat Anda masukkan dalam daftar objek wisata yang ingin Anda kunjungi di Iran:

    Katedral St. Sarkis

    Katedral Santo Sarkis, yang merupakan Gereja Apostolik Armenia, terletak di pusat kota Teheran. Dianggap sebagai gereja terbesar di Teheran, pembangunan Katedral Santo Sarkis selesai pada tahun 1970.

    Puncak dari gereja ini adalah tugu peringatan Genosida Armenia di halaman gedung untuk mengenang orang-orang Armenia yang dibasmi oleh Ottoman pada dekade kedua abad kedua puluh. Bagian luar Katedral Santo Sarkis terbuat dari marmer putih dan dinding bagian dalamnya dipenuhi lukisan-lukisan yang berkaitan dengan tema-tema Alkitab.

    Katedral Juru Selamat Suci

    Katedral Santo Juru Selamat, yang juga dikenal sebagai Gereja Vank, adalah katedral indah yang terletak di kawasan bersejarah Jolfa di pusat Isfahan. Katedral Vank dibangun pada masa pemerintahan Safavid, saat ribuan umat Kristen tinggal di distrik Jolfa, Isfahan.

    Desain katedral yang mengagumkan ini, baik di dalam maupun di luar, telah menjadikannya salah satu gereja terpenting di Iran dan salah satu objek wisata wajib yang harus dikunjungi di Isfahan bagi wisatawan.

    Laman: 1 2 3

  • Gereja dan Tambang, Kontradiksi Khotbah Moral di Mimbar Agama

    Gereja dan Tambang, Kontradiksi Khotbah Moral di Mimbar Agama

    Ruteng, infopertama.com – Flores, pulau indah di NTT dengan Mayoritas Katolik menyimpan keindahan tiada tara, juga memiliki kekayaan energi, salah satunya panas bumi.

    Penobatan Flores sebagai pulau panas bumi atau Geothermal karena memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, dengan lebih dari 30 titik yang diperkirakan memiliki daya sekitar 900 megawatt. Julukan ini diberikan secara resmi pada 19 Juni 2017 oleh Menteri ESDM melalui Surat Keputusan. 

    Pemanfaatan energi panas bumi di Flores sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum SK itu ditetapkan. PLTP Ulumbu di Desa Wewo, kecamatan Satar Mese Kabupaten Manggarai sudah beroperasi sejak 2012 tuk memenuhi kebutuhan listrik di Manggarai. Saat itu, suplai energi dari Ulumbu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Manggarai, termasuk pada beban puncak. Cahaya lampu dengan energi panas bumi mengubah wajah Manggarai, tak hanya rumah warga dan kantor pemerintah saja, gereja dan gedung-gedung milik keuskupan juga dialiri listrik dari panas bumi Ulumbu.

    Namun, seiring waktu dengan bertambahnya jumlah penduduk dengan segala konsekuensinya kebutuhan listrik di Manggarai sudah tidak bisa lagi dipenuhi Ulumbu yang hanya mampu mensuplai 7,5 MW dari kebutuhan listrik Manggarai kekinian yang sudah berada di angka 13,5 MW.

    Besarnya kebutuhan listrik di Manggarai menggugah pemerintah untuk melakukan pengembangan memanfaatkan potensi Panas Bumi di Poco Leok dan beberapa tempat lain di Flores. Selain itu, pengembangan pemanfaatan panas bumi juga sebagai upaya pemerintah tuk berangsur mengurangi ketergantungan pada energi konvensional, energi Fosil yang didatangkan dari luar. Energi yang jelas-jelas kotor dan tentunya merusak lingkungan sebagaimana PLTU di Ropa yang menggunakan Batu Bara dari Kalimantan.

    Laman: 1 2 3 4 5

  • Jenazah Diakon Handri Hambur Diserahkan ke Keuskupan Ruteng

    Jenazah Diakon Handri Hambur Diserahkan ke Keuskupan Ruteng

    Ruteng, infopertama.com – Jenazah Diakon Handri Hambur secara resmi diserahkan oleh pihak keluarga, kepada keuskupan Ruteng, Kamis, 12 Juni 2025 sore.

    Penyerahan ini berlangsung di pelataran Katedral Ruteng yang diterima oleh Pater Vikjen Keuskupan Ruteng, Pater Sebas Hobahana, SVD dan didampingi beberapa imam.

    Pantauan media, Peti Jenazah ditandu para anggota THS menuju Katedral, sementara itu juga ratusan pelajar putri SMA Katolik St. Fransiskus Ruteng berdiri rapi membentuk pagar betis.

    Isak tangis orangtua dan keluarga mengiringi prosesi pengantaran peti jenazah saat diarak masuk Katedral untuk disemayamkan.

    Ketahui, Diakon Handri Hambur tutup usia hanya tiga hari ditahbiskan sebagai daikon oleh Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San di Seminari Tinggi Ritapiret, Minggu 8 Juni 2025.

    Diakon Handri Hambur tutup usia di rumah orangtuanya di Kembur, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Rabu 11 Juni 2025 sekitar pukul 11.00 Wita. 

    Meninggalnya Diakon Handri Hambur ini membawa duka yang mendalam bagi seluruh umat Keuskupan Ruteng dan umat Katolik pada umummya.

    Berita kepergiannya viral di berbagai platform media sosial baik tiktok, facebook dan lainya.

    Banyak netizen membagikan momen saat Alm Diakon Handri didampingi kedua orang tuanya bersama puluhan calon diakon lainya saat momen pentahbisan diakon di Ritapiret, Maumere, Kabupaten Sikka.

    Handri Hambur merupakan mahasiswa Magister Ilmu Agama/Teologi Katolik yang telah menyelesaikan seluruh kewajiban akademik dan akan yudisium pada tanggal 1 Juli 2025.

    Laman: 1 2

  • Anak Warga Yogyakarta Terima Sakramen Baptis di Vatikan, Proses Diwarnai Tantangan Dokumen

    Anak Warga Yogyakarta Terima Sakramen Baptis di Vatikan, Proses Diwarnai Tantangan Dokumen

    infopertama.com – Pasangan asal Yogyakarta, Daniel Oscar Baskoro dan Erlinda Aji Ayuningrum, tak menyangka bahwa putra mereka, Damian Orlin Baskara, bisa menerima Sakramen Baptis di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Senin (26/5/2025).

    Prosesi istimewa ini juga berlangsung di dalam era kepemimpinan paus baru, yakni Paus Leo XIV yang belum lama ini dilantik sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

    Damian yang baru berusia 1,5 tahun mengikuti sakramen suci itu dalam sebuah prosesi yang istimewa.

    Oscar mengungkapkan, kesempatan langka tersebut berawal dari e-mail permohonan sederhana yang ia kirimkan langsung ke Vatikan.

    “Saya memang ada acara di Jerman bulan Mei ini. Sebelum berangkat, saya buka website Vatikan dan menemukan alamat e-mail-nya. Saya kirim e-mail permohonan. Saya tahu ini sangat jarang, bahkan belum pernah saya dengar ada orang Indonesia yang mengalaminya,” ujar Oscar kepada Kompas.com, Jumat (30/5/2025), lewat sambungan telepon.

    Tak disangka, permohonan tersebut dibalas hanya dalam waktu satu hingga dua minggu.

    Oscar mengatakan, dirinya menerima kabar pada pukul 18.00 tanggal 20 Mei 2025 bahwa permohonannya disetujui dan dijadwalkan untuk ikut acara pada 26 Mei 2025 pukul 10.00 pagi waktu Vatikan.

    “Satu jam setelah dapat e-mail, saya langsung konfirmasi. Vatikan meminta saya melengkapi dokumen yang dibutuhkan. Sebelumnya, saya memang belum mengirim dokumen apa pun,” kata Oscar.

    Lima dokumen kunci

    Untuk memenuhi syarat baptisan di Vatikan, Oscar harus melengkapi lima dokumen utama. Seluruh dokumen ditulis dalam bahasa Latin dan sebagian besar memerlukan koordinasi lintas negara.

    1. Surat izin dari paroki
    Dokumen pertama adalah surat perizinan dari Paroki Pringwulung, tempat Oscar dan istrinya menjadi bagian dari komunitas Katolik.

    Surat ini menunjukkan bahwa keluarga tersebut diizinkan secara gerejawi untuk menerima sakramen baptis di luar negeri.

    2. Surat pendampingan baptis
    Oscar juga harus menunjukkan bahwa putranya telah didampingi dalam persiapan baptisan. “Karena kami aktif di lingkungan Gereja di Jogja, proses ini cukup terbantu,” ujarnya.

    3. Penunjukan wali baptis
    Tantangan terbesar adalah mencari wali baptis yang bisa hadir langsung di lokasi. Oscar akhirnya dibantu Romo Christianus Surinono, OCD, yang kini menjabat sebagai Definitor General (Sekretaris Jenderal) Ordo Karmel di Roma.

    Romo Christianus juga melengkapi surat pengantar dari parokinya di Roma.

    4. Surat permohonan tertulis
    Meski permohonan awal dilakukan lewat e-mail, pihak Vatikan tetap meminta surat resmi dalam bentuk tertulis.

    5. Dokumen identitas diri
    Dokumen terakhir meliputi paspor, akta lahir orangtua dan anak, serta paspor wali baptis.

    Melewati penjagaan Swiss Guard

    Oscar dan keluarganya diwajibkan hadir di Vatikan sehari sebelum jadwal baptis. Mereka masuk lewat pintu khusus yang dijaga oleh Swiss Guard.

    Laman: 1 2