Cepat, Lugas dan Berimbang

Antara Selat Hormuz dan Paskah Kita

Namun kini, akibat ketegangan geopolitik yang sudah nyata dalam saling serang terbuka belakangan ini, Iran sudah menyasar kapal-kapal tanker internasional. Iran telah bertindak sebagai ‘penguasa mutlak selat Hormuz dan penentu sepihak: Kapal tanker negara-negara mana saja yang diijinkannya melintas dan dari negara mana saja yang kapal tanker sepertinya disekap dan dibiarkan tak tentu nasibnya.

Konflik militer, perang terbuka, yang masih berlangsung hingga hari-hari belakangan ini berimbas pada kerentanan sektor ekonomi massif. Dan tidakkah ini bakal berujung pada tragedi kemanusiaan? Indonesia ‘sedikitnya terancam’ pula. Itu sekiranya Pertamina Pride dan Gamsunoro, dua kapal tanker Indonesia itu masih tak jelas bebas.

Dalam situasi penuh kepelikan ini, Gereja ‘masuk dalam refleksi misteri Paskah: Derita, Wafat dan Kebangkitan Tuhan.

“Dio non ascolta le preghiere di chi fa la guerra e ha mani grondano sangue – Tuhan tak mendengar doa dari mereka yang tengah berperang dan tangan-tangan yang berlumuran darah.” Itulah suara Paus Leo XIV pada refleksi Hari Minggu Palma.

Ternyata, dunia yang diklaim semakin maju dan diakui kian berkembang, adalah dunia yang telah dirampas kebebasan dan diborgol dalam kekalutan alam batinnya. Iya, itulah dunia yang tersekap dalam penjara ketakutan ciptaannya sendiri.

Dunia bisa saja umumkan kemenangannya dalam menghancurkan dan membunuh ‘lebih banyak’ dari apapun dan siapapun yang dianggapnya sebagai musuh. Tetapi dunia dalam tipe manusia seperti itu belum pernah sanggup mengalahkan ketakutan dalam dirinya sendiri.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN