Cepat, Lugas dan Berimbang

Antara Selat Hormuz dan Paskah Kita

(sekadar satu perenungan)

Kons Beo, SVD

infopertama.com – Ini bukan hanya soal baku hantam Tel Aviv – Washington versus Teheran. Sekadar menguji kecanggihan mesin-mesin perang demi saling melumpuhkan. Untuk buktikan pihak mana yang alami kerugian lebih parah. Dan nantinya harus takluk dan menyerah kalah. Ternyata?

Iran itu punya modal kuat untuk menekan Israel dan Amerika Serikat. Tak hanya perlawanan militer sebagai reaksi. Ada selat Hormuz sebagai ‘senjata geografi strategis’ demi mengganggu perekonomian global.

Selat sepanjang kurang lebih 167 km dengan lebar di area sempit 35 km dan terjauh sepanjang 95 km itu telah dipikir matang oleh Iran untuk dikuasai dan diblok seketatnya. Selat Hormuz itu hubungkan teluk Persia dengan teluk Oman, dan bermuara ke laut Arab dan Samudra Hindia. Selepas dari Selat Hormuz, segala jenis armada laut, ya terutama kapal-kapal tanker bisa bebas berlayar ke tujuannya.

Di selat Hormuz, saban hari, tercatat “sekitar 21 juta barel minyak per hari atau sekitar 21 persen konsumsi minyak dunia lewati jalur ini. Begitupun dengan pasokan gas alam cair (LNG) di perkiraan 20 persen konsumsi global lewati selat Hormuz.

Dunia pada tahu. Selat Hormuz itu, oleh hukum global punya status internasional. Tak boleh ada negara manapun yang mengklaimnya sepihak. Namun, Iran tak peduli. Bahkan sejak tahun 1993, dengan undang-undang dalam negerinya sendiri, “Iran mewajibkan izin terlebih dahulu bagi kapal perang dan militer asing yang ingin melintas.” Iran tak mau berada dalam risiko ancaman jadi nyata. Sekiranya militer asing itu berulah.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN