Jika masih harus ditambah maka terdapat lagi ketakutan akan goncangnya posisi, jabatan, kedudukan, kepentingan sepihak, dan berbagai kelekatan lainnya yang tak sehat, yang sampai harus memandang sesama sesama sebagai ancaman.
Berita Paskah di makam Yesus, dari suara orang muda itu buat para perempuan, “Jangan takut!” Ya, kita memang tak boleh takut untuk mengalami kebangkitan Tuhan, dan bersama-sama ‘beralih, ber-passover di dalam Tuhan.’
Lawan dari ketakutan tentu bukanlah keberanian, apalagi ‘asal berani atau berani bodoh.’ Tetapi bahwa mesti adanya kebesaran hati dan kekuatan jiwa. Untuk lepaskan berbagai senjata kepalsuan. Untuk semisalnya berterus terang dalam sebuah koreksi persaudaraan. Untuk mengalami sesama sungguh sebagai saudara dan saudari.
Dan kata orangtua-tua, “Berjiwa besarlah kau untuk saling berbagi beranda dan halaman rumahmu dengan tetangga. Untuk tak terkurung hanya mengintip dari balik jendela untuk kemudian semburkan ludah dan sumpah serapah. Jangan!”
Mari kembali pada Selat Hormuz. Apakah kini kisah dunia yang panas membara ini sekian ditempel dan ditetaskan oleh alam hati Trump dan Netanjahu yang sekian takut? Oleh para elitis Iran yang masih terbelenggu cemas? Di titik ini, Hormuz adalah, sebut saja, sebagai ‘antitese paskah.’ Ketika ‘paskah’ selalu berarti ‘kisah peralihan, gerakan melewati dan berlalu,’ di selat Hormuz masih terikat bendera setengah tiang. Masih terblokade. Belum sepenuhnya beralih ke laut lepas…
Dan untuk kita sendiri? Terkadang, kita yakini diri sendiri ‘telah lewati alam padang gurun, telah seberangi Laut Merah.’ Telah ber-move on, namun ternyata ‘aku sebenarnya masih seperti ini, tetap begini, dan begitu-begitu terus.’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







