Cepat, Lugas dan Berimbang

Hujan Tak Meredam Iman Umat di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong

Oplus_131072

Kisah sengsara dibacakan perlahan, membawa umat masuk dalam permenungan yang sama seperti yang mereka hayati sejak pagi.

Puncaknya hadir dalam ritual penghormatan salib. Umat maju satu per satu, mencium salib Tuhan Yesus dengan penuh hormat dan penghayatan. Tidak ada ekspresi berlebihan, namun ketenangan dan kekhusyukan itu justru menyampaikan makna iman yang mendalam. Di antara antrean itu, tampak pula anak-anak balita yang digendong orangtua mereka ikut mencium salib—sebuah gambaran sederhana namun kuat tentang iman yang diwariskan, bahwa merekalah Gereja masa depan.

Dalam homilinya, Pater Kristianus Sambu, SVD, tidak hanya mengajak umat untuk mengenang, tetapi juga menggugat hati nurani mereka. Ia merujuk pada perikop Yesaya 52:13–53:12, Ibrani 4:14–16; 5:7–9, serta Yohanes 18:1–19:42.

“Sabda Tuhan adalah pelita hidup kita,” tegasnya.

Mengutip Kitab Yesaya, ia mengingatkan:
“Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya… oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.” (Yes. 53:4-5).

Namun ia lalu mengajukan pertanyaan yang menggugah:
“Jika Yesus sudah berkorban sampai wafat di salib, apa yang sudah kita korbankan dalam hidup kita?”

Ia menyoroti realitas zaman ini, ketika manusia mudah mencari jalan instan, mengorbankan kejujuran, dan bahkan merendahkan martabat sesama demi keuntungan pribadi.

“Ketika kita menyebarkan kebencian, ketika kita merendahkan sesama, ketika kita mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar—di situlah kita kembali menyalibkan Yesus,” ujarnya.

Ia mengajak umat untuk berani melakukan pertobatan nyata: menyalibkan egoisme, kesombongan, dan kemunafikan dalam diri.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN