infopertama.com – Dulu, sungai-sungai kecil di Ruteng bukan sekadar aliran air. Ia adalah dapur alami, taman bermain, sekaligus ruang belajar bagi warga. Di bawah rimbunan bambu yang menjaga tepian, air mengalir jernih. Ikan mujair berenang bebas, belut bersembunyi di lumpur, katak bersahutan, sementara udang dan kepiting kecil mencengkeram sela-sela batu agar tak hanyut.
Anak-anak datang untuk saa, dalam bahasa Manggarai berarti menangkap ikan, dengan cara sederhana. Kadang mereka menggunakan jala seadanya, kadang cukup dengan baju kaos bekas. Mereka tidak datang untuk mengeksploitasi, melainkan untuk mengambil secukupnya. Ikan yang kecil dilepas kembali, sementara yang lebih besar dibawa pulang. Ada etika yang tumbuh alami: alam memberi, manusia menjaga.
Sungai menjadi ruang belajar yang sesungguhnya bagi anak-anak dan remaja. Mereka belajar strategi, ketangkasan, dan kerja sama. Mereka membaca arus, berbagi peran, dan memahami batas. Mereka pulang membawa hasil, dan di dapur, ibu telah menunggu. Ikan digoreng dengan minyak kelapa, disantap bersama. Sederhana, tetapi penuh makna—mengandung gizi sekaligus kebahagiaan.
Hari ini, sungai itu seperti kehilangan ingatannya.
Air masih mengalir, tetapi membawa beban yang tak seharusnya: plastik, limbah rumah tangga, hingga sisa bengkel. Got dan aliran kecil yang dahulu menjadi nadi kehidupan kini berubah menjadi jalur pembuangan. Padahal, semestinya sampah tidak dibuang ke sungai, melainkan ke tong sampah dan tempat penampungan yang telah disediakan pemerintah di beberapa titik di Kota Ruteng.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







