Cepat, Lugas dan Berimbang

Sungai-Sungai di Kota Ruteng yang Kehilangan Ingatan

Oplus_131072

Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Ia adalah konsekuensi dari bertambahnya jumlah penduduk, dari bangunan yang tumbuh hingga ke bantaran sungai, serta dari pola hidup yang semakin jauh dari kesadaran ekologis. Sungai yang dulu lapang kini terhimpit, ruang hidupnya menyempit, dan daya dukungnya melemah.

Apa yang dibuang di kota bergerak mengikuti arus—dari selokan kecil menuju sungai besar, lalu berakhir di laut. Ahli kelautan Jenna Jambeck mencatat bahwa jutaan ton plastik masuk ke laut setiap tahun dan terurai menjadi mikroplastik yang dikonsumsi ikan. Sementara itu, Richard Thompson menunjukkan bahwa partikel ini telah masuk ke rantai makanan manusia. Ikan yang kita anggap sumber gizi, perlahan juga menjadi pembawa risiko yang tidak terlihat.

Kita ingin hidup sehat dengan mengonsumsi ikan yang kaya omega-3, tetapi tanpa sadar merusak sumber kehidupannya.

Barangkali sungai tidak sedang marah. Ia hanya sedang jujur. Ia berkata kepada ikan, belut, kepiting, dan udang: “Aku tidak lagi menjadi rumah yang aman bagi kalian.” Bukan karena sungai berubah, tetapi karena kita yang mengubahnya.

Perubahan iklim yang kita rasakan hari ini juga bukan semata datang dari alam, melainkan bagian dari dampak ulah manusia sendiri. Tubuh kita membutuhkan air, tetapi kita tidak merawat lingkungan tempat air mengalirkan kehidupan.

Karena itu, membangun kesadaran cinta lingkungan menjadi sangat mendesak. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus menuntun manusia agar hidup selaras dengan alam. Sekolah perlu menjadi ruang pembentukan kesadaran ekologis, bukan hanya melalui teori, tetapi juga pengalaman langsung. Hal yang sama harus hidup dalam keluarga, karena rumah adalah ruang pendidikan pertama.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN