Oleh: Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★
infopertama.com – Tidak semua bahaya datang dari orang asing. Sebagian justru lahir dari pintu yang kita buka sendiri—atas nama kepercayaan.
Kasus pembunuhan seorang ibu rumah tangga di Pekanbaru yang diduga melibatkan lingkar relasi keluarga, termasuk mantan menantu, mengguncang bukan hanya karena kekerasannya, tetapi karena konteks kedekatannya. Ia memperlihatkan sebuah realitas yang kerap diabaikan: bahwa relasi yang paling dekat sekalipun tidak selalu menjadi ruang yang aman.
Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai illusion of safety—sebuah bias kognitif di mana individu secara otomatis menurunkan kewaspadaan terhadap orang yang dikenalnya. Kedekatan menciptakan rasa aman semu. Kita percaya karena pernah dekat, bukan karena situasi benar-benar aman. Dan dalam banyak kasus kekerasan interpersonal, celah inilah yang dimanfaatkan.
Lebih dalam lagi, peristiwa ini dapat dibaca melalui konsep betrayal trauma yang diperkenalkan oleh Jennifer Freyd. Trauma jenis ini muncul bukan sekadar karena adanya ancaman, tetapi karena ancaman itu datang dari seseorang yang seharusnya melindungi atau setidaknya tidak membahayakan.
Dalam kondisi demikian, korban sering kali tidak memiliki kesiapan psikologis untuk merespons, karena sistem kepercayaannya telah lebih dulu “menjinakkan” potensi bahaya.
Namun, tragedi ini tidak hanya tentang korban. Respons emosional pihak keluarga, termasuk anak korban yang tampak datar, juga menjadi sorotan publik. Dalam logika awam, kesedihan sering diukur dari ekspresi. Semakin tampak hancur, semakin dianggap wajar. Sebaliknya, ketenangan sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







