Cepat, Lugas dan Berimbang

Ketika Popularitas Tidak Cukup

Oleh Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★

infopertama.com – Penutupan Menantea pada April 2026 menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis, popularitas bukanlah jaminan keberlanjutan. Peristiwa ini tidak hanya menandai berhentinya satu merek, tetapi juga memperlihatkan cara kita memaknai kesuksesan di era digital yang kerap menempatkan citra di atas kesiapan.

Figur publik seperti Jerome Polin memiliki keunggulan dalam hal visibilitas. Jutaan pengikut memberi akses cepat ke pasar dan mempercepatkan proses pengenalan produk. Namun, visibilitas bukan fondasi bisnis. Ia hanya pintu masuk.

Penelitian pemasaran menunjukkan bahwa daya tarik figur publik efektif dalam membangun kesadaran merek, tetapi tidak cukup untuk menjaga loyalitas jangka panjang (Erdogan, 1999).

Masalah muncul ketika popularitas diperlakukan seolah-olah cukup untuk menopang kompleksitas bisnis. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini berkaitan dengan kecenderungan overconfidence, yaitu keyakinan berlebih terhadap kemampuan diri setelah keberhasilan awal.

Moore dan Healy (2008) menjelaskan bahwa bias ini membuat individu mengabaikan risiko yang sebenarnya meningkat seiring pertumbuhan. Dalam konteks bisnis, hal ini tampak pada ekspansi cepat tanpa diiringi kesiapan sistem yang memadai.

Padahal, semakin besar skala usaha, semakin kompleks pula pengelolaannya.

Kasus ini juga menegaskan pentingnya sistem dalam menjaga kepercayaan. Kepercayaan memang penting dalam kerja sama, tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Mayer, Davis, dan Schoorman (1995) menekankan bahwa kepercayaan perlu didukung oleh mekanisme kontrol dan akuntabilitas. Tanpa itu, kepercayaan justru berpotensi menjadi titik lemah.

Dalam praktiknya, organisasi yang terlalu mengandalkan relasi personal tanpa sistem yang kuat cenderung rapuh. Simons (2002) menunjukkan bahwa lemahnya kontrol internal berkorelasi dengan meningkatnya risiko penyimpangan. Artinya, persoalan dalam bisnis sering kali bukan semata-mata akibat niat buruk, melainkan karena sistem yang tidak mampu mencegah kesalahan.

Yang runtuh dalam kasus ini bukan hanya kinerja bisnis, tetapi juga sistem yang menopangnya. Ketidaksiapan dalam mengelola pertumbuhan, serta potensi ketidaksesuaian ekspektasi antara berbagai pihak, menunjukkan lemahnya tata kelola.

Dalam perspektif psikologi organisasi, kondisi ini mencerminkan belum matangnya struktur dan peran dalam organisasi. Padahal, organisasi yang efektif ditopang oleh kejelasan sistem, pembagian peran, dan pengawasan yang konsisten (Robbins & Judge, 2017).

Di sisi lain, ada dimensi yang sering terabaikan, yakni tekanan psikologis pada pengelola bisnis. Menghadapi persoalan internal, menjaga reputasi, serta memenuhi tanggung jawab terhadap mitra dan karyawan bukanlah beban ringan.

Maslach dan Leiter (2016) menunjukkan bahwa tekanan berkepanjangan tanpa dukungan sistem yang memadai dapat memicu kelelahan mental dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan menutup bisnis sering kali menjadi langkah rasional untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Fenomena ini juga mencerminkan kecenderungan yang lebih luas dalam ekosistem bisnis saat ini: dorongan untuk tumbuh cepat tanpa kesiapan yang memadai. Data menunjukkan bahwa sebagian besar bisnis rintisan gagal, dan salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya manajemen serta kurangnya kesiapan operasional (CB Insights, 2021).

Hal ini menegaskan bahwa pertumbuhan tanpa fondasi justru memperbesar risiko.

Dari sini, terdapat pelajaran yang jelas. Popularitas dapat membuka peluang, tetapi tidak dapat menggantikan kompetensi. Kepercayaan perlu diimbangi dengan sistem yang kuat. Dan ekspansi harus diiringi kesiapan, bukan sekadar optimisme. Pada akhirnya, bisnis bukan hanya soal ide atau momentum, melainkan tentang kemampuan mengelola kompleksitas secara konsisten.

Kasus Menantea mengingatkan bahwa di balik kesuksesan awal, terdapat proses panjang yang menuntut disiplin dan kehati-hatian. Tanpa itu, pertumbuhan justru dapat menjadi awal keruntuhan. Popularitas membuka jalan, tetapi hanya sistem dan kompetensi yang menjaga keberlangsungan.

★Dosen di Fakultas Psikologi UST Owner Harmonia Psychocare

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN