Ketika Popularitas Tidak Cukup

Dalam praktiknya, organisasi yang terlalu mengandalkan relasi personal tanpa sistem yang kuat cenderung rapuh. Simons (2002) menunjukkan bahwa lemahnya kontrol internal berkorelasi dengan meningkatnya risiko penyimpangan. Artinya, persoalan dalam bisnis sering kali bukan semata-mata akibat niat buruk, melainkan karena sistem yang tidak mampu mencegah kesalahan.

Yang runtuh dalam kasus ini bukan hanya kinerja bisnis, tetapi juga sistem yang menopangnya. Ketidaksiapan dalam mengelola pertumbuhan, serta potensi ketidaksesuaian ekspektasi antara berbagai pihak, menunjukkan lemahnya tata kelola.

Dalam perspektif psikologi organisasi, kondisi ini mencerminkan belum matangnya struktur dan peran dalam organisasi. Padahal, organisasi yang efektif ditopang oleh kejelasan sistem, pembagian peran, dan pengawasan yang konsisten (Robbins & Judge, 2017).

Di sisi lain, ada dimensi yang sering terabaikan, yakni tekanan psikologis pada pengelola bisnis. Menghadapi persoalan internal, menjaga reputasi, serta memenuhi tanggung jawab terhadap mitra dan karyawan bukanlah beban ringan.

Maslach dan Leiter (2016) menunjukkan bahwa tekanan berkepanjangan tanpa dukungan sistem yang memadai dapat memicu kelelahan mental dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan menutup bisnis sering kali menjadi langkah rasional untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Fenomena ini juga mencerminkan kecenderungan yang lebih luas dalam ekosistem bisnis saat ini: dorongan untuk tumbuh cepat tanpa kesiapan yang memadai. Data menunjukkan bahwa sebagian besar bisnis rintisan gagal, dan salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya manajemen serta kurangnya kesiapan operasional (CB Insights, 2021).

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel