Cepat, Lugas dan Berimbang

Ketika Keluarga Tak Lagi Aman: Membaca Kekerasan dari Dalam Relasi Terdekat

Padahal, dalam kajian trauma modern, kondisi ini justru dapat menunjukkan emotional numbing—mati rasa emosional sebagai mekanisme pertahanan diri. Seperti dijelaskan oleh Bessel van der Kolk, ketika beban psikologis melampaui kapasitas individu, sistem saraf dapat “mematikan” respons emosi untuk menjaga stabilitas. Tubuh memilih bertahan, bukan merasakan.

Di sisi lain, keterlibatan mantan menantu membuka dimensi lain: bahwa konflik relasi tidak selalu selesai ketika hubungan formal berakhir. Dalam perspektif family system theory yang dikembangkan oleh Murray Bowen, keluarga adalah sistem emosional yang saling terhubung. Ikatan bisa putus secara struktural, tetapi tetap hidup secara psikologis.

Konflik yang tidak terselesaikan—kekecewaan, kemarahan, atau rasa tidak adil—dapat menjadi tekanan laten. Ia tidak selalu terlihat, tetapi terus bekerja di bawah permukaan. Dalam kondisi tertentu, tekanan ini bisa menemukan jalannya, baik melalui agresi emosional maupun tindakan yang lebih ekstrem.

Di titik ini, kekerasan tidak lagi bisa dipahami sebagai sekadar tindakan impulsif. Ia bisa menjadi hasil dari akumulasi: frustrasi yang tidak terkelola, relasi yang retak, serta kesempatan yang terbuka. Teori frustration–aggression menjelaskan bahwa tekanan yang terus menerus tanpa saluran adaptif dapat berubah menjadi agresi. Dan ketika agresi bertemu dengan motif instrumental—seperti ekonomi—maka kekerasan dapat menjadi terencana.

Kasus ini pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keluarga masih menjadi ruang aman?

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN