Namun dalam kenyataan, KBG sering kali belum sepenuhnya menjadi ruang hidup iman seperti yang dicita-citakan. Ia masih berhenti pada pertemuan doa, belum berkembang menjadi ruang di mana umat membaca hidupnya bersama, berbagi pergulatan, dan mencari terang Sabda Tuhan untuk melangkah.
Katekese dan pembacaan Kitab Suci pun kadang masih berjalan sebagai kegiatan, belum sepenuhnya menjadi kekuatan yang mengubah cara berpikir dan bertindak. Sabda Tuhan belum selalu hadir sebagai terang yang menuntun umat dalam menghadapi persoalan nyata: kesulitan ekonomi, relasi dalam keluarga, maupun tantangan kehidupan sosial.
Akibatnya, muncul jarak antara iman yang dirayakan dan kehidupan yang dijalani. Kegiatan tetap berjalan, tetapi transformasi belum sungguh terasa.
Padahal, dalam Injil kita melihat Yesus yang selalu hadir dalam realitas hidup manusia. Ia tidak menjauh dari kemiskinan, ketidakadilan, dan luka kehidupan. Ia justru masuk ke dalamnya, menyapa, menyembuhkan, dan memulihkan. Ia tidak hanya berbicara tentang Allah, tetapi menghadirkan kasih Allah secara nyata.
Maka pertanyaan ini layak kita renungkan bersama:
untuk apa kita berdoa, membaca Kitab Suci, dan berkatekese, jika masih ada saudara-saudari kita yang bergumul dalam kesulitan hidup, yang perlahan menjauh, bahkan tidak lagi hadir dalam perayaan iman?
Kenyataan lain yang tak kalah mengusik adalah partisipasi umat yang belum merata. Di beberapa KBG, komitmen membangun Gereja “dari, oleh, dan untuk umat” masih rendah. Hal ini tampak dalam gerakan syukur yang belum optimal, di mana memberi masih dipandang sebagai beban, bukan sebagai ungkapan iman dan solidaritas.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







