“Lambaian Daun Palma: Itulah Nyanyian Cinta – Damai dan Keadilan”

Mari telisik ‘ke dalam tubuh kita sendiri sebagai bangsa, pun sebagai insan beriman. Kita pasti harus tetap belajar untuk perangi diri sendiri. Demi menata citra kebersamaan. Menggusur benci, dendam dan iri. Demi jadi terhormat dan bermarwah dalam fakta kebhinekaan. Dalam keniscayaan kamajemukan itu.

Terdengar suara alam Tanah Air. Mari sudahilah sudah ribut-ribut tempias hanya untuk ngurusin ‘soal palsu atau asli ijasahnya Pak Jokowi dan Wapres Gibran.’ Ada sisi kemanusiaan yang masih merintih tergerus bencana banjir badang, tanah longsor di sana-sini. Serta lengkingan suara ratap tangis menjerit karena ketidakadilan akibat gelombang permainan hukum yang makin tak senonoh.

Dan lagi?
Serasa kita masih gemetaran tak berakar kokoh pada iman dan keyakinan dalam agama kita sendiri. Itu ternyatakan ketika dalam ‘ukuran punya kita sendiri’ kita mendepak siapapun ‘yang bukan kita, yang tak sejalan dan tak searah.’ Dan terciptalah relasi peyoratif dalam ornamen diksi haram jadah, kafir, sesat.

Satu sentilun menggelitik pernah terdengar, “Di tanah air, lagu Gereja Tua yang diliris Panbers di tahun 1970-an itu, masih saja dinyanyikan hingga kini. Soalnya jelas. Untuk urus ‘Gereja Muda, iya maksudnya untuk buat ‘Gereja Baru’ ijinannya berlapis, sulit dan berlarut-larut. Maka biarlah tetaplah bersyair Gereja Tua…”

Dan masih lagi…?
Sepertinya kita lagi bertempur sengit dengan senjata dan amunisi-amunisi apologetik iman. Demi hanya saling mengincar titik-titik rawan dan lemah masing-masing. Kita sekian sulit berdiam hening dan berakar pada tradisi keimanan kita masing-masing. Suara menggelegar, dan makin banyak klaiming penuh pembenaran jelaslah bukanlah jadi tujuan keberimanan.

Laman: 1 2 3

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses