Menurutnya, Yesus datang bukan sebagai raja dunia yang penuh kemegahan, melainkan sebagai Raja Damai yang rendah hati dan taat kepada Bapa. Keteguhan Yesus dalam menghadapi penderitaan telah dinubuatkan dalam Kitab Yesaya: “Aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu” (Yes. 50:7).
Ia juga menegaskan bahwa ketaatan Kristus mencapai puncaknya dalam pengorbanan di salib, sebagaimana tertulis: “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).
Pater Kristianus mengingatkan umat akan dinamika iman yang sering berubah-ubah, dari sorak-sorai “Hosana” menjadi penolakan. Karena itu, umat diajak untuk tidak hanya setia dalam suasana sukacita, tetapi juga tetap teguh dalam penderitaan.
“Sabda Tuhan harus menjadi pelita dalam hidup kita, yang menuntun kita untuk tetap setia, baik dalam suka maupun duka,” ungkapnya.
Ia juga mengajak umat untuk berani memanggul “salib-salib kecil” dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh iman dan sukacita, sebagai wujud cinta kepada Kristus.
Ketua Wilayah Betlehem Woang, Saverinus, menilai perayaan Minggu Palma tahun ini berlangsung sangat meriah dan penuh makna.
“Perayaan Minggu Palma tahun ini sangat agung karena kehadiran umat yang sangat banyak. Hal ini terlihat dari perarakan di dua gendang, yaitu Gendang Woang yang dipadati umat dari wilayah 1, 2, dan 3, serta Gendang Tuke yang diikuti umat dari wilayah 4, 5, dan 6,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa suasana semakin semarak karena seluruh umat mengenakan busana adat bernuansa merah, yang menambah keindahan perarakan menuju gereja paroki.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







