Sepertinya Malingering Politik dan Playing Victim itu Kembaran

P. Kons Beo, SVD

Hati-hatilah! Ada yang memanipulasi kondisi kesehatannya. ‘Bilangnya sakit. Tapi, lihat sana! Ada sehat-sehat saja tu.’ Atau di contoh lain, ‘Ngakunya miskin. Padahalnya, segalanya serba mewah dan elit tu.’ Ini yang namanya ‘cara dan teknik semua na.’ Bikin publik terkecoh saja.

Kita kini hidup dalam alam penuh siasat. Terhadap sesama dikaroserilah type relasi penuh prank. Jebakan dengan varian modus minus kondisi fisik-mental diracik. Sambil berharap adanya empati berbasis misericordia yang segera jatuh beriba hati. Atau setidaknya ‘masih ada rasa keberpihakan bagi yang malang dan derita nasib dan keadaan.’

Di rana psikologi, iya di seputar Psikologi Abnormal (Asti Musman, 2022), ada paparan seputar malingering.

Ada gejala nyata malingering dalam abnormalitas psikologis itu. Sebut saja semisal memanipulasi keadaan dengan berpura-pura sakit. ‘Karang saja alasan sakit ini itu atau sedang tidak enak badan, misalnya, supaya jangan masuk kerja atau sekolah.’ Gampang kan?

Ada lagi yang bertingkah ‘tiba-tiba aneh oleh gangguan mental saat lakukan kejahatan. Maksudnya kisah suram itu terjadi di luar kesadaran. Arahnya jelas! Demi bebas dari dakwaan hukuman. Tindakan atau keadaan ini memang penuh pertentangannya. Artinya? Oknum sungguh bersikap antisosial (kriminal), namun pada saat yang sama ia butuh afirmasi publik bahwa ia ‘memang eror mental.’ Semuanya, itu tadi, demi bebas dari jeratan hukum.

Disinyalir, terdapat sekian banyak elitis Tanah Air yang terlibat tindak koruptif, lalu ‘berupaya untuk dinyatakan’ atau tepatnya ‘bikin diri sakit’ agar bisa berobat di luar negeri. Dan seterusnya mereka ini tetap di luar negeri. Dan hukum di dalam negeri mesti ‘gigit jari dalam penantian yang tak pasti.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel