Sepertinya Malingering Politik dan Playing Victim itu Kembaran

Dan di balik semuanya, sekali lagi, dituduhlah bahwa ada pihak lain ‘yang bikin kami jadi korban dan menderita.’ Maka ‘tolong selamatkanlah kami dari derita ini.’ Bukankah rasa belaskasih dijerat untuk sebuah keberpihakan?

Tampak simpel saja. Pada malingering dan playing victim di koridor politik selalu terkondisi teater untuk bersandiwara. Bisa dibaca secepatnya yang tidak sekadar membaca sepintas.

Ada ‘kesakitan dan ketimpangan dalam pembangunan.’ Itu yang tak sekadar disadari oleh pemimpin sebagai ‘luka-luka kepemimpinannya.’

Namun, selalu dibangun strategi kata-kata untuk menjelaskan, untuk mengundang pihak manapun agar masuk dalam logika racikan sang pemimpin. Ujung-ujungnya agar ‘luka-luka pembangunan itu dapat dipahami, diamini atau dimaklumi.’ Namun, pada kenyataannya, yang harus menanggung derita pada akhirnya adalah publik (rakyat) itu sendiri. Iya, rakyat yang sebenarnya telah ‘gadaikan rasa belaskasihnya atas segala tata kata yang terdengar masuk akal namun sebenarnya ngeles memelas.’

Namun, yang terjadi murah meriah adalah ‘drama publikasi diri atau kelompok sebagai korban atau obyek suram dari sikap dan tindakan dari pribadi atau kelompok lain.

Memang, dalam tarung politik tetap saja ada siasat ‘hitamkan nama baik, pembunuhan karakter atau bikin kampanye gelap tentang pesaing.’ Intinya, agar publik tak punya rasa simpati pada calon yang cemar rekam jejak, dan tak sedap dalam peri hidup!

Lain perkaranya pada playing victim. Bikin diri seolah-olah jadi korban atau alami derita sebagai akibat dari perbuatan dan sikap dari pihak lain. Dalam lukisan sederhana, “Sebenarnya tak ada soal atau akibat mendasar, tapi orang bikin diri dalam ekspresi kata, suara, wajah penuh derita dan malang.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel