Sepertinya Malingering Politik dan Playing Victim itu Kembaran

Keadaan sakit, derita, aneh-aneh, tidak sadar, hilang kontrol, gangguan identitas, hingga depersonalisasi memanglah keadaan abnormal psikologis yang nyata! Bahwa “sesungguhnya individu tak lagi mengenal dirinya sendiri.”

Namun hal ini lain ceritanya dalam drama abnormalitas psikis, malingering. Di situ ada ‘rencana, taktik dan teknik, rekayasa, strategi yang semuanya berbau penuh pura-pura, sarat kelicikan, manipulatif agar bebas dari tanggungjawab dan kewajiban. Dan busuknya lagi, agar publik pada amini, maklumi dan bahkan sampai dipaksa untuk ‘jatuh kasihan tak sampai hati segala.’

Tetapi, mari memotret seadanya actus politisasi malingering. Katakan saja begitu. Kita ambil saja kiat-kiat demi kepemimpinan Tanah Air di 2024. Dari area pusat hingga daerah-daerah. Memanglah fatal andai calon pemimpin harus bikin diri apalagi proklamasikan keadaan diri sendiri dalam keadaan ‘sakit, lemah, tak berdaya, atau segala keadaan psikis yang rancu.’ Bahwa semuanya sedang ‘tidak baik-baik saja.’

Keadaan psikologis yang miris ini tentu tak produktif untuk sebuah perhelatan politik demi memegang kuasa kepemimpinan negeri. Siapa yang ingin memilih calon pemimpin yang ‘sakit atau lagi dalam keadaan tidak baik-baik saja? Lalu?

Bagaimanapun faktor intensi substantif dalam malingering tetaplah yang itu, yakni ‘dapatkan rasa keberpihakan atau pemahaman publik dalam bingkai rasa penuh belaskasih.’

Maka, geliat malingering dalam ‘frame politik’ mesti beralih modus untuk berpelukan mesrah dengan, katakan saja, saudara kembarnya, yakni playing victim. Jika pada malingering itu individu itu bersiasat bikin diri ‘sakit, derita’ maka lain modusnya pada playing victim. Di situ, Individu juga ‘kampanyekan’ keadaan sakitnya yang penuh pura-pura itu. Namun itu semua disebabkan oleh sikap dan perlakuan pihak lain. Maka yang disuarakan adalah nada-nada lamentatif bin baperan. Penuh gema dan intonasi minornya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel