Sepertinya Malingering Politik dan Playing Victim itu Kembaran

Atau, memang ada soal dan akibat buruk yang harus dipikul. Dalam bahasa pasar, orang bilang, “Nah, itu salahmu sendiri. Itulah risiko, akibat perbuatan dan tindakanmu sendiri… Jangan salahkan siapa-siapa.” Namun bagi si pelaku playing victim ia hanya punya misi diri yang diselamatkan dan dimenangkan!

Formulasi yang jadi harapan dalam drama playing victim: “Aku (kami) telah jadi korban, maka sepantasnya dikasihani (dipilih atau dipihaki). Dan orang lainlah yang jadi pelaku itu mesti dihukum (tak boleh dipilih atau dipihaki).

Seorang pemimpin bisa bikin diri ‘sakit ingatan’ akan segala janji kampanyenya. Ia berpura-pura lupa akan apa yang wajib ia tuntaskan di masa kepemimpinannya. “Dulu janjinya apa ya?” adalah formulasi agar ia bisa dipahami dalam ciri kemanusiaan yang lemah ingatan juga.

Dalam kisah Pilpres silam, playing victim ditembakkan kepada Partai Demokrat dengan SBY sebagai mentor yang dianggap publik penuh baperan. Ada banyak modus yang dipakai oleh regim atau penguasa di saat itu yang bikin SBY jadi korban.

Namun, lantaran karena victima lah, SBY (Partai Demokrat) yang jadi victor nya. Pemenang karena (jadi) korban adalah strategi yang berhasil mendulang rasa simpati penuh belah rasa atau keberpihakan.

Jika nanti secara resmi telah didaftarkan ke KPU sebagai calon Presiden 2024, maka Ganjar Pranowo, Anis Baswedan, dan Prabowo Subianto, dengan masing-masing timnya tentu segera berselancar dalam strategi jitu yang diyakini bakal mendulang ‘rasa hati keberpihakan.’ Maka, misalnya, dapat diandaikan bahwa tim Prabowo akan bertarung sengit sekiranya capres Prabowo Subianto telah dicurangi dengan isu lama seputar pelanggaran HAM di 1997-1998 itu. Dan rasa simpati publik bahwa Prabowo dizalimi mesti dibangkitkan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel