Keraguan akan kebenaran teori Darwin ini kemudian diperkuat oleh antropolog Gustav Schwalbe pada tahun 1901 di Namur- Prancis dan Kroasia.
Gustav berani membuktikan bahwa fosil manusia Naedertal tergolong manusia purba. Penemuan-penemuan fosil manusia purba pada tahun-tahun berikutnya juga turut mendukung teori ini.
Perkembangan manusia dalam teori evolusi oleh Frans Dähler dapat digolonglan perkembangannya sebagai berikut: Pithecanthropus erectus, 1891 (kera manusia yang berdiri tegak), Homo Soloensis, 1931-1933 (manusia pengerajin) Meganthropus Palaeojavanicus 1939-1941 (manusia raksasa-yang ditemukan di daerah Jawa), Homo sapiens yang ditemukan tahun 1996 (Manusia bijaksana), dan terakhir beriringan dengan penemuan sebelumnya yaitu Homo sapiens (Manusia purba yang menyerupai manusia modern).
Dalam seluruh perkembangan ini yang dikenal dengan teori evolusi mau membuktikan bahwa manusia dan segala yang hidup dalam alam semesta sesungguhnya diturunkan dari forma yang sudah ada sebelumnya yang mengalami kesempurnaan dalam proses evolusi.
Evolusi itu bisa berubah sebagai pengaruh lingkungan (mutasi dan seleksi) atau kodrat pertumbuhan dari makhluk hidup itu sendiri. Mutasi berarti adanya perubahan wujud untuk menyesuaikan diri dengan lingkunngan demi bertahan hidup. Sedangkan seleksi, merupakan mampu mengalami perubahan wujud dan menyesuaikan diri itulah yang kemudian bertahan hidup dan mewarisi keturunan.
Jalan Tengah
Sebelum Konsili Vatikan II perkembangan ilmu pengetahuan masih sangat dipengaruhi oleh ajaran Kristen, terutama pada abad ke-18. Semua ilmu pengetahuan tunduk di bawah sayap gereja. Tidak ada yang meragukan bahwa alam semesta, manusia, dan segala makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan seperti adanya sekarang tanpa perubahan (evolusi) sebagaimana manusia adalah turunan dari penemuan fosil purba (kera) yang menyerupai manusia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




