Sedikit berbeda dengan cara Allah menciptakan langit dan bumi kosmis, manusia dan segala binatang dan segala burung diciptakan dari unsur yang sudah ada. Kitab Suci, dalam Kitab kejadian (Kej. 2: 6-7,21-22) khususnya menerangkan: “…tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu – ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya…Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya…Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan.
Manusia diciptakan tidak dari yang nihil, ini digambarkan secara jelas dalam Kitab Suci. Manusia diciptakan dari “debu tanah” dan seorang manusia lain yaitu perempuan Allah menciptakannya dengan mengambil salah satu “rusuk” manusia pertama yaitu laki-laki. Ini sungguh merupakan sebuah peristiwa iman yang tidak bisa dijelaskan dengan kadar ilmiah yang masuk akal dan teruji. Manusia diciptakan Allah sesudah kosmos terbentuk sebagai puncak dari semua ciptaan. Di sini meskipun proses penciptaan itu barangkali tidak dimengerti secara ilmiah namun sudah ada causal metrialisi yang bisa menjadi rujukan ilmiah untuk mempertanggungjawabkan iman.
Teori Evolusi
Dalam teori evolusi yang menjadi inti persoalan ialah mengenai proses perubahan atau terjadinya alam semesta. Berikut perihal evolusi Kosmos atau terjadinya Bumi: Teori Big Bang, dikembangkan oleh Stephen W. Hawking, dalam bukunya A Brief History Of Time: From the Big Bang to Black Holes, terbitan 1988. Menurut teori ini lahirnya bumi berasal dari suatu ledakan besar oleh materi padat dengan tenaga yang dahsyat sehingga gumpalan-gumpalan gas dan debu menjauh dengan kecepatan tinggi. Dari sinilah dikatakan sebagai permulaan dunia dan mulailah waktu (Frans Dahler, 2015: 31).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




