Mengapa Budaya Menghukum Melahirkan Bullying

Mengajar semestinya menjadi pekerjaan yang dijalani dengan kegembiraan. Guru yang menikmati proses belajar akan lebih mudah menemukan potensi daripada sekadar menghitung kekurangan. Sebaliknya, guru yang lebih sibuk mencari siapa yang salah daripada memahami mengapa kesalahan itu terjadi perlahan menjauh dari hakikatnya sebagai pamong. Padahal, setiap kesalahan anak adalah kesempatan bagi guru untuk menemukan cara membimbing yang lebih bijaksana.

Menuntun, menuntut kesabaran dan kepercayaan kepada proses. Tidak semua benih tumbuh pada musim yang sama, tetapi hampir setiap benih akan berkembang apabila memperoleh tanah yang subur, cahaya yang cukup, dan tangan yang sabar merawatnya. Demikian pula anak-anak kita. Mereka tidak membutuhkan guru yang tergesa-gesa menghakimi, melainkan guru yang setia membersamai pertumbuhannya.

Menjadi guru bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan melatih keluasan hati. Mengajar dengan ikhlas bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan percaya bahwa setiap kebaikan yang ditanam melalui pendidikan akan menemukan jalannya sendiri. Hasil kerja seorang guru mungkin tidak selalu tampak hari ini, tetapi dapat hidup puluhan tahun dalam cara berpikir pada setiap keputusan yang kelak diambil murid-muridnya dalam menjalani kehidupan.

Sebagaimana ungkapan yang hidup di tengah masyarakat Jawa, Gusti Allah mboten sare—Tuhan tidak pernah tidur. Tidak ada ketulusan yang sia-sia, dan tidak ada pengabdian yang luput dari penilaian-Nya. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari sedikitnya pelanggaran yang tercatat, melainkan dari banyaknya anak yang tetap memilih yang benar ketika tidak ada guru yang mengawasi. Pendidikan yang sejati tidak sedang menciptakan manusia yang takut kepada hukuman, tetapi manusia yang setia kepada nilai.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel