Jika murid mengotori kelas, konsekuensinya adalah membersihkan kelas. Jika merusak fasilitas sekolah, konsekuensinya adalah memperbaiki atau menggantinya. Jika mengganggu proses belajar, konsekuensinya adalah memulihkan hak teman-temannya untuk belajar dengan tenang. Fokusnya bukan membuat anak menderita, melainkan mengajak mereka bertanggung jawab.
Semboyan Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani bukan sekadar semboyan pendidikan, melainkan paradigma kepemimpinan yang menghormati martabat manusia. Beliau tidak pernah membayangkan guru sebagai pencetak manusia yang seragam.
Setiap anak lahir dengan kodrat, irama tumbuh, dan potensi yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang memerlukan waktu lebih panjang. Ada yang berkembang melalui logika, ada yang menemukan dirinya melalui seni, keterampilan, atau kepekaan sosial. Tugas guru bukan menyeragamkan hasil, melainkan menyediakan ruang agar setiap anak bertumbuh sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.
Peran Guru sebagai Pamong dan Penjaga Moralitas Generasi
Karena itu, Ki Hadjar Dewantara menyebut pendidik sebagai pamong, bukan penguasa. Pamong tidak memerintah melalui rasa takut, tidak mempermalukan, dan tidak menjadikan kemarahan sebagai alat mendidik. Pamong menuntun.
Barangkali sudah saatnya kita mengubah ambisi dalam mendidik. Jangan berambisi agar seluruh murid menjadi yang paling pintar. Berambisilah menemani mereka bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik setiap hari. Sebab pendidikan bukan perlombaan menghasilkan nilai tertinggi, melainkan perjalanan menumbuhkan karakter, empati, keberanian moral, dan tanggung jawab.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











