Raja Lenk memiliki seekor gajah jantan yang ia biarkan berkeliaran ke mana-mana. Akibatnya banyak kebun dan sawah warga desa rusak semua karena diinjak gajah itu. Warga desa ingin protes, tetapi mereka takut pada kekejaman Raja. Nasrudin yang dikenal dekat dengan Raja diminta untuk menyampaikan keluhan warga itu. Setibanya di istana Nasrudin langsung berbicara kepada Raja. “Begini Paduka, gajah Paduka itu lho …” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, keluar dari ruangan Raja satu orang yang babak belur dipukul oleh raja dan algojunya.”Kalau kau berani protes mengenai gajahku lagi, akan kupotong lidahmu” kata raja kepada orang yang babak belur itu. Lalu Raja menoleh ke Nasrudin: “Oh ya, tadi kamu mau omong tentang gajahku?” “Anu paduka, kayaknya gajah jantan paduka kesepian. Sepertinya ia perlu kawan gajah betina.” {Feed: Humor Sufi: Menyampaikan Kebenaran}
Raja Lenk hanya mengikuti kebebasan pikirannya sendiri, yaitu melepaskan gajah jantannya berkeliaran sampai merusak semua kebun dan sawah warga. Hanya Nasrudin yang berani memberi pertimbangan lain, yaitu gajah jantannya mesti diberi teman gajah betina.
Tanpa pikiran dari luar, kita merasa benar semuanya apa yang kita lakukan. Ini amat berbahaya. Sebab itu amat perlu pikiran dan pertimbangan dari luar, dari orang lain dan terutama dari Tuhan lewat Sabda-Nya dalam Alkitab.
Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





